Pesan Moral Dari Seekor Semut
Syaikh
Mamduh Farhan Al-Buhairi seorang Mufti Masjidil Haram, mengisahkan
kisah nyatanya sendiri, dia berkata: Pada suatu kesempatan, aku duduk di
sebuah tempat, Kupalingkan pandanganku kesana kemari melihat
makhluk-makhluk Allah S.W.T. Akupun terkagum-kagudengan ciptaan
ar-Rahman SWT. Seekor semut menarik perhatianku. Dia berkeliaran di
sekitarku untuk mencari sesuatu, mencari, dan mencari. Tidak merasa
terbebani, juga tidak bosan.
Di tengah-tengah pencariannya, dia menemukan sisa-sisa bangkai belalang,
tepatnya adalah kaki belalang. Diapun menyeretnya, dan menyeretnya, dan
berusaha untuk membawanya ke tempat tertentu yang telah ditentukan oleh
hukum mereka di dunia semut. Dia sudah banyak berusaha dalam usahanya
tersebut. Setelah beberapa waktu, dan kesungguhan, dia merasa tidak bisa
membawa kaki belalang tersebut. Lalu dia tinggalkan buruan berharga
tersebut, kemudian pergi ke suatu tempat yang tidak kuketahui, dan
diapun menghilang.
Selang beberapa waktu, dia kembali bersama dengan sejumlah besar semut.
Di saat aku melihat kemana mereka menuju, aku tahu bahwa semut yang tadi
telah mengajak mereka semua untuk membantunya mengangkat apa yang tidak
mampu dia angkat. Akupun ingin hiburan sedikit, kuambil kaki belalang
tersebut, lalu kusembunyikan. Maka dia dan semut-semut lain yang
bersamanya mencari kaki tersebut, mereka mencarinya kesana kemari tanpa
ada hasil, hingga mereka putus asa akan keberadaannya, lalu merekapun
pergi meninggalkan tempat tersebut. Setelah itu, semut yang pertama
datang kembali sendirian menuju tempat tadi. Sebelum dia sampai pada
tempat tadi, kukembalikan kaki belalang di hadapannya.
Maka mulailah dia mengitari dan melihat di sekelilingnya. Lalu dia
berusaha untuk menyeretnya lagi, berusaha dan berusaha, hingga dia
merasa lemah. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu sekali lagi.
Akupun yakin bahwa dia pergi untuk memanggil kabilah semutnya guna
membantunya untuk mengangkat kaki belalang yang ditemukannya tersebut.
Setelah itu, datanglah sekumpulan semut bersama semut tadi, dan kukira
itu adalah kelompok semut yang sama seperti tadi!! Mereka pun datang,
dan saat aku melihat mereka berjalan di belakang semut pertama menuju
tempat tadi, akupun banyak tertawa, lalu kuambil kaki belalang dan
kusembunyikan dari mereka sekali lagi. Merekapun mencari kesana kemari,
mereka mencari dengan penuh keikhlasan.
Demikian pula semut tadi mencari dengan sepenuh semangat dan
keyakinannya, berputar kesana kemari, melihat ke kanan dan ke kiri, agar
melihat sesuatu, akan tetapi tidak ada sesuatupun. Pada saat seperti
ini, terjadilah sesuatu yang aneh. Sekumpulan semut itu berkumpul
bersama yang lain setelah mereka bosan mencari, dan diantara mereka
terdapat semut yang pertama. Kemudian tiba-tiba mereka menyerangnya,
lalu memotong-motongnya secara ganas di hadapanku. Dan demi Allah, aku
melihat kepada mereka, sementara aku ada pada keterkejutan yang besar.
Apa yang terjadi membuatku takut... mereka membunuhnya...mereka
memotong-motongnya di hadapanku. Astaghfirullah! Ya, mereka
memotong-motongnya di hadapanku... dia terbunuh karena aku... mereka
membunuhnya karena mereka menyangka bahwa dia telah berdusta kepada
mereka!!! SubhanAllah, hingga bangsa semut memandang dusta sebagai aib,
dan kekurangan, bahkan dosa besar yang pelakunya dihukum bunuh!! Semut
menganggap dusta adalah sebuah kejahatan, dan memberikan hukuman
atasnya!!
Maka bagaimana jika dusta itu membawa keburukan, atau keragu-raguan yang
di belakangnya akan timbul fitnah, peperangan, dan kehancuran rumah
tangga?! Serta penderitaan rakyat banyak karena para wakil rakyat yang
dipilih ternyata mendustai rakyatnya dengan korupsi, nepotisme, dll.
serta pemimpin negara ini mendustai dan mendurhakai HUKUM ALLAH yang
wajib diterapkan....Maka dimanakah orang yang bisa mengambil pelajaran
dari semut kecil ini ? Subhanallah walhamdulillah.... "Akan datang
sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka
memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun
mimbar mereka melakukan TIPU DAYA (DUSTA) dan pencurian (KORUPSI). Hati
mereka lebih busuk dari bangkai." (HR. Aththabrani)
Minggu, 27 Mei 2012
Kisah-Kisah Orang Sukses "SOICIRO HONDA"
![]() |
| Sepeda Bermesin Pertama Di Dunia |
Sejak kecil, Soichiro Honda telah menunjukkan kecintaannya pada mesin dan otomotif. Sebelum masuk sekolah, Honda kecil telah membantu ayahnya mereparasi alat-alat pertanian di bengkel ayahnya. Ia juga bisa berdiri berjam-jam hanya untuk mengamati cara kerja mesin penggiling padi.
Di masa sekolahnya, Honda tidak memiliki kisah sukses dalam bidang akademik. Nilai-nilai ulangannya jelek. Ia juga sering membolos. Namun sebenarnya ia memiliki bakat di kelas sains yang mempelajari tentang mesin. Dengan mudah, ia dapat menangkap penjelasan gurunya.
Keika berusia 8 tahun, Honda nekat bersepeda sejauh 10 mil hanya untuk melihat pesawat terbang. Dan ia begitu senang ketika melihat ada mobil yang melintas di desanya. Pada usia 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda dengan model rem kaki.
Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Tokyo untuk mencari kerja. Ia diterima di Hart Sokay Company, pada awalnya hanya bekerja sebagai cleaning service merangkap pengasuh bayi bos nya. Hingga akhirnya sang pemilik menemukan bakat Honda dalam bidang mesin.
Ia sungguh cekatan dan jenius dalam masalah mesin sehingga bosnya senang dengan nya. 6 tahun ia bekerja di perusahaan itu. Pada umur 21 tahun, bosnya berkeinginan membuka cabang di Hamamatsu, dan Honda pun dipilih untuk memimpin kantor cabang itu.
Di kantor cabang ini prestasinya membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak bengkel-bengkel lain. Hasil kerjanya pun cepat dan tepat. Honda tidak segan-segan bekerja sampai larut malam, tanpa mengurangi kreativitasnya.
Salah satu buah kreativitasnya adalah penemuan velg dengan jari-jari logam ketika ia berusia 30 tahun. Pada zaman itu, mobil-mobil masih menggunakan velg dengan jari-jari kayu. Jari-jari kayu ini, selain tidak bagus dalam meredam getaran, juga mudah terbakar. Penemuan Honda ini menjadi hak patennya yang pertama sekaligus kisah sukses nya yang pertama.
Penemuan ini membuat Honda ingin membangun usaha sendiri. Ia keluar dari perusahaan tempatnya bekerja pada tahun 1938 dan memutuskan membangun usaha pembuatan ring piston. Sayang ring piston buatannya ditolak Toyota karena kualitasnya dianggap tidak memenuhi syarat.
Kisah sukses Honda pun berganti dengan kegagalan. Kegagalan ini membuat ia jatuh sakit. Teman-temannya menyesalkan pengunduran dirinya dari perusahaan tempatnya bekerja dulu. Namun bukan Honda namanya kalau tenggelam dalam kegagalan. 2 bulan kemudian, ia bangkit kembali dengan bermodalkan mimpiny
MAKALAH PERKEMBANGAN LOGIKA- MATEMATIKA PADA ANAK USIA DINI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Sesungguhnya setiap anak dilahirkan cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intelligences, menyatakan terdapat delapan kecerdasan pada manusia yaitu: kecerdasan linguistik/verbal/bahasa, kecerdasan matematis logis, kecerdasan visual/ruang/spasial, kecerdasan musikal/ritmis, kecerdasan kinestetik jasmani, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Tugas orangtua dan pendidik lah mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak. dalam faktanya, matematika merupakan salah satu matapelajaran di sekolah yang mendapatkan perhatian “lebih” baik dari kalangan guru, orangtua maupun anak. selain matematika adalah termasuk matapelajaran yang diujikan dalam ujian nasional (un) juga masih ditemukan banyak pihak yang memiliki persepsi bahwa matematika adalah pengetahuan terpenting yang harus dikuasai anak. tetapi, dalam kenyataan yang dihadapi saat ini, masih terdapat anak yang belum dibekali kemampuan untuk berprestasi cemerlang di bidang matematika. seolah-olah mereka, dihadapkan pada dua hal yang dilematis, di satu sisi mereka “harus” menguasai matematika, di sisi lain ia merasa lemah untuk belajar matematika. mungkinkah hal ini, akibat dari sistem pendidikan kita yang salah? pola pengasuhan orangtua yang keliru? atau memang potensi matematisnya tidak dikembangkan sejak usia dini? atau “jangan-jangan” mereka tidak mau belajar karena merasa tidak butuh dengan matematika. hakikatnya, setiap individu itu dalam kehidupannya pasti membutuhkan matematika (meski tingkat sederhana, misal: jual beli). dan, pada prinsipnya setiap anak itu dikaruniai kemampuan matematis, yakni memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini bahkan sebelum usia sekolah. anak usia pra-sekolah sudah mengerti tentang kuantitas, misalnya banyak dan sedikitnya benda, jumlah saudaranya, dll. sekarang, tinggal tugas orangtua dan pendidik lah untuk mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak. kecerdasan matematis memuncak pada masa remaja dan masa awal dewasa. beberapa kemampuan matematika tingkat tinggi akan menurun setelah usia 40 tahun. kecerdasan matematis logis dikategorikan sebagai kecerdasan akademik, karena dukungannya yang tinggi dalam keberhasilan studi seseorang. dalam tes iq, kecerdasan matematis logis sangat diutamakan. oleh karenanya, matematika menjadi “bermakna” dalam kehidupan individu manusia. nah, berpijak pada uraian singkat tersebut, kita menjadi maklum bahwa dalam setiap individu ternyata telah terdapat potensi kecerdasan matematis. oleh karenanya, tinggal bagaimana kita sebagai orangtua, guru, pendamping dapat mengembangkan kecerdasan tersebut sejak usia dini. harapannya, ketika tumbuh dewasa anak-anak tidak lagi kesulitan untuk mencari potensi matematisnya. dengan demikian, paud menjadi sarana efektif untuk menggali dan mengembangan kecerdasan matematis yang dimiliki anak. tentunya, dengan cara yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak. misalnya, menghitung jumlah kue, jumlah uang, memperlihatkan warna-warni baju, menghitung banyaknya kotak keramik, dll. dengan berusaha menggali dan mengembangkan kecerdasan matematis anak sejak usia dini, diharapkan ketika masuk jenjang pendidikan selanjutnya, anak tidak lagi merasa kesulitan untuk menerima materi pelajaran matematika. dari uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk menulis sebuah makalah dengan judul "pengaruh kecerdasan logika matematika dalam pendidikan anak usia dini". B. Perumusan Masalah Agar pembahasan dalam makalah ini sistematis, maka penulis merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud kecerdasan logika matematika? 2. Bagaimana cara mengasah kecerdasan logika matematika pada anak? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui definisi kecerdasan logika matematika. 2. Untuk mengetahui cara mengasah kecerdasan logika matematika pada anak usia dini. D. Kerangka Berpikir Rendahnya mutu pendidikan masih disandang bangsa . Hal ini dapat diminimalkan dengan mengoptimalkan pendidikan pada anak sejak dini, terutama pendidikan matematika. Mengingat image masyarakat terhadap matematika yang menganggap pelajaran yang menakutkan. Padahal, matematika dapat diberikan kepada anak sejak usia 0+ tahun. Anak pada usia 0-6 tahun perlu mendapat perhatian khusus karena pada usia inilah kesiapan mental dan emosional anak mulai dibentuk. Penelitian terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menunjukkan bahwa mutu pendidikan dan keberhasilan akademis secara signifikan dipengaruhi oleh kualitas masukan pendidikan yaitu kesiapan mental dan emosional anak memasuki sekolah dasar. Anak mulai belajar dan beradaptasi dengan lingkungannya sejak bayi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan otak bayi dibentuk pada usia 0-6 tahun. Oleh sebab itu asupan nutrisi yang cukup juga harus diperhatikan. Para ahli neurologi meyakini sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia terjadi pada usia 4 tahun, 80% terjadi ketika usia 8 tahun, dan 100% ketika anak mencapai usia 8 - 18 tahun. Itulah sebabnya, mengapa masa anak-anak dinamakan masa keemasan. Sebab, setelah masa perkembangan ini lewat, berapapun kapabilitas kecerdasan yang dicapai oleh masing-masing individu, tidak akan meningkat lagi. Bagi yang memiliki anak, tentu tidak ingin melewatkan masa keemasan ini. Berdasarkan kajian neurologi dan psikologi perkembangan, kualitas anak usia dini disamping dipengaruhi oleh faktor bawaan juga dipengaruhi faktor kesehatan, gizi dan psikososial yang diperoleh dari lingkungannya. Maka faktor lingkungan harus direkayasa dengan mengupayakan semaksimal mungkin agar kekurangan yang dipengaruhi faktor bawaan tersebut bisa diperbaiki. Dalam tahun-tahun pertama kehidupan, otak anak berkembang sangat pesat dan menghasilkan bertrilyun-trilyun sambungan yang memuat berbagai kemampuan dan potensi. Nutrisi bagi perkembangan anak merupakan benang merah yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Setidaknya terdapat 6 aspek yang harus diperhatikan terkait dengan perkembangan anak antara lain: pertama, perkembangan fisik: hal ini terkait dengan perkembangan motorik dan fisik anak seperti berjalan dan kemampuan mengontrol pergerakan tubuh. Kedua, perkembangan sensorik: berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan panca indra dalam mengumpulkan informasi. Ketiga, perkembangan komunikasi dan bahasa: terkait dengan kemampuan menangkap rangsangan visual dan suara serta meresponnya, terutama berhubungan dengan kemampuan berbahasa dan mengekspresikan pikiran dan perasaan. Keempat, perkembangan kognitif: berkaitan dengan bagaimana anak berpikir dan bertindak. Kelima, perkembangan emosional: berkaitan dengan kemampuan mengontrol perasaan dalam situasi dan kondisi tertentu. Keenam, perkembangan sosial: berkaitan dengan kemampuan memahami identitas pribadi, relasi dengan orang lain, dan status dalam lingkungan sosial. orang tua juga dituntut untuk memahami fase-fase pertumbuhan anak. Fase pertama, mulai pada usia 0-1 tahun. Pada permulaan hidupnya, anak diusia ini merupakan suatu mahkluk yang tertutup dan egosentris. Ia mempunyai dunia sendiri yang berpusat pada dirinya sendiri. Dalam fase ini, anak mengalami pertumbuhan pada semua bagian tubuhnya. Ia mulai terlatih mengenal dunia sekitarnya dengan berbagai macam gerakan. Anak mulai dapat memegang dan menjangkau benda-benda disekitarnya. Ini berarti sudah mulai ada hubungan antara dirinya dan dunia luar yang terjadi pada pertengahan tahun pertama (� 6 bulan). Pada akhir fase ini terdapat dua hal yang penting yaitu: anak belajar berjalan dan mulai belajar berbicara. Fase kedua, terjadi pada usia 2-4 tahun. Anak semakin tertarik kepada dunia luar terutama dengan berbagai macam permainan dan bahasa. Dunia sekitarnya dipandang dan diberi corak menurut keadaan dan sifat-sifat dirinya. Disinilah mulai timbul kesadaran akan "Akunya". Anak berubah menjadi pemberontak dan semua harus tunduk kepada keinginannya. Fase ketiga, terjadi pada usia 5-8 tahun. Pada fase pertama dan kedua, anak masih bersifat sangat subjektif namun pada fase ketiga ini anak mulai dapat melihat sekelilingnya dengan lebih objektif. Semangat bermain berkembang menjadi semangat bekerja. Timbul kesadaran kerja dan rasa tanggung jawab terhadap kewajibannya. Rasa sosial juga mulai tumbuh. Ini berarti dalam hubungan sosialnya anak sudah dapat tunduk pada ketentuan-ketentuan disekitarnya. Mereka mengingini ketentuan-ketentuan yang logis dan konkrit. Pandangan dan keinginan akan realitas mulai timbul. Untuk pendidikan matematika dapat diberikan pada anak usia 0+ tahun sambil bermain, karena waktu bermain anak akan mendapat kesempatan bereksplorasi, bereksperimen dan dengan bebas mengekspresikan dirinya. Dengan bermain, tanpa sengaja anak akan memahami konsep-konsep matematika tertentu dan melihat adanya hubungan antara satu benda dan yang lainnya. Anak juga sering menggunakan benda sebagai simbul yang akan membantunya dalam memahami konsep-konsep matematika yang lebih abstrak. Ketika bermain, anak lebih terstimulasi untuk kreatif dan gigih dalam mencari solusi jika dihadapkan atau menemukan masalah. Pada pendidikan matematika dapat diberikan misalnya pada pengenalan bilangan, terlebih dahulu diperdengarkan angka dengan menyebutkan angka satu, dua, tiga dan seterusnya. Dan perlihatkan benda-benda berjumlah satu, dua, tiga dan seterusnya, bukan berarti materinya langsung mengenalkan lambang bilangan "dua" karena anak akan bingung. Dengan bertambahnya kecerdasan dan umur barulah diperkenalkan ke lambang bilangan. Pengenalan geometri, anak diberikan berbagai macam bentuk bangun misalnya bola, kotak, persegi, lingkaran dan sebagainya. Dengan memerintahkan anak mengambil bangun yang disebutkan nama dan ciri-cirinya. Pengenalan penjumlahan dan pengurangan, pakailah bola berdiameter sama yang dapat digenggam. Untuk pengurangan, sebanyak bola diambil satu, dua, ..., dan . Sebaliknya penjumlahan dengan menambahkan satu, dua, ..., sampai empat pada bola yang tergenggam. Mengingat ciri khas pada setiap jumlah bola yang sering dilihatnya, anak pun akan melihat kejanggalan ketika dikurangi atau ditambah. Peristiwa tersebut membuatnya semakin memahami hakikat "bertambah" dan "berkurang", yang ditandai perubahan jumlah bola yang digenggamnya. Apalagi pada peragaan bola yang diameter dan warnanya beragam, pemahamannya tidak lagi terikat dengan ukuran, tetapi pada jumlah bola yang tampak. Pengenalan hubungan atau pengasosiasian antara benda, misalnya berikan kotak dan dilanjutkan dengan memperlihatkan benda yang berbentuk kotak lain seperti kotak susu, bungkus sabun dan sebagainya. Dibenak anak dapat menghubungkan antar kotak yang satu dengan yang lainnya. Sehingga pendidikan matematika dapat diberikan kepada anak usia dini dimulai dari pendidikan keluarga, yang dilakukan oleh orang tua sebagai guru terdekat sang anak. Peran penting yang dapat dilakukan orang tua yaitu sebagai: Pertama, pengamat. Orang tua mengamati apa yang dilakukan oleh anak sehingga dapat mengikuti proses yang berlangsung. Ketika dibutuhkan, orang tua dapat memberikan dukungan dengan mengacungkan jempol, mengangguk tanda setuju, menyatakan rasa sukanya, bahkan ikut bermain. Kedua, manajer. Orang tua memperkaya ide anak dengan ikut mempersiapkan peralatan sampat tempat bermain. Ketiga, teman bermain. Orang tua ikut bermain dengan kedudukan sejajar dengan anak. Keempat, pemimpin (play leader). Dalam hal ini orang tua berperan menjadi teman bermain, sekaligus memberikan pengayaan dengan memperkenalkan cara serta tema baru dalam bermain. Pengaruh orang tua sebagai "guru" pada anak memiliki porsi terbesar dilingkungannya, sehingga orang tua dalam mendidik dapat beracuan: pertama, berorientasi pada anak (pupil centered). Dalam mengajar anak tidak dengan komunikasi satu arah dengan kata lain orang tua dinyatakan orang yang paling tahu dan paling pandai. Kedua, dinamis. Dalam mendidik anak bawalah mereka sambil bermain dan orang tua dapat memancing anak untuk memunculkan ide kreatif dan inovatifnya. Ketiga, demokratis. Ini berarti, memberikan kesempatan pada anak untuk menuangkan pikirannya dan bersikap tidak sok kuasa. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kecerdasan Logika Matematika Kecerdasan (Inteligensi)secara umum dipahami pada dua tingkat yakni : 1. Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. 2. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya. Sementara itu, yang dimaksud dengan kecerdasan matematis logis menurut adalah kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan. Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya. Anak dengan kemampuan ini akan senang dengan rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual. Kecerdasan logis matematis adalah kemampuan memahami suatu kondisi atau keadaan dengan menggunakan perhitungan matematis dan melalui penalaran logika. Fokusnya yaitu kemampuan memecahkan suatu masalah secara logis berdasarkan informasi-informasi yang dimiliki. Sering disebut juga sebagai kemampuan analisis. Jadi, kecerdasan logis matematis tak dibatasi pada kemampuan memecahkan soal hitung-hitungan saja. Kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan melakukan penalaran, beurusan dengan angka dan kemampuan untuk memecahkan masalah dengan rasional dan berpikir jernih.Contohnya: biasanya anak akan melihat suatu mesin bukan dari keindahannya tetapi dari bagaimana cara kerja mesin itu (urutan kerjanya), juga biasanya senag main catur dan otomatis biasanya senang dengan pelajaran matematika.Kecendengannya nanti pada saat bekerja juga ada hubungannya dengan angka-angka tersebut. Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematik dan kecerdasan linguistik. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan linguistik diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa. Bentuk kecerdasan ini termasuk yang paling mudah distandarisasikan dan diukur. Kecerdasan ini sebagai pikiran analitik dan sainstifik, dan bisa melihatnya dalam diri ahli sains, programmer komputer, akuntan, banker dan tentu saja ahli matematika. Berkaitan dengan pelajaran matematika. Tokoh-tokoh yang terkenal antara lain Madame Currie, Blaise Pascal, B.J. Habibie. B. Ciri-Ciri Kecerdasan Logika Matematika Kecerdasan Matematis-logis berhubungan dengan pola, rumus-rumus, angka-angka dan logika. Orang-orang ini cenderung pintar dalam teka-teki, gambar, aritmatika, dan memecahkan masalah matematika, mereka seringkali menyukai komputer dan pemrograman. Ciri-ciri lain dari kecerdasan logika matematika ini di antaranya adalah: 1. banyak bertanya tentang cara kerja suatu hal, 2. suka bekerja atau bermain dengan angka, 3. lebih tertarik pada game matematika dan komputer dibandingkan permainan lain, 4. suka mengerjakan teka teki logika atau soal-soal angka yang sulit, suka dan memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran matematika, 5. sering melakukan percobaan mengenai ilmu pasti, pada saat pelajaran maupun pada waktu luangnya, suka membuat kategori, hierarki, atau pola logis lain, 6. suka permainan catur, main dam, atau permainan strategi lain, 7. mudah memahami rumus dan cara kerjanya serta tepat dalam mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari dan 8. pandai menggunakan pengetahuannya dan memberi pendapatnya untuk memecahkan persoalan sehari-hari. Menurut Gardner, ciri anak cerdas matematik logis pada usia balita, anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut, mengamati benda-benda yang unik baginya, hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba. Seperti bagaimana jika kakiku masuk kedalam ember penuh berisi air atau penasaran menyusun puzzle. Mereka juga sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan. Selain itu anak juga suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung. C. Merangsang Kecerdasan Logika Matematika pada Anak Usia Dini Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan. Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya. Anak dengan kemampuan ini akan senang dengan rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual. Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematik dan kecerdasan linguistik. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan linguistik diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa. Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? Kita bisa mengenalkan pertama kali pemahaman konsep matematika sejak usia dini dari lingkungan sekitar kita dan pengalaman sehari-hari anak serta memberikan stimulasi yang mendukung. Tentu saja hal ini dilakukan tanpa paksaan dan tekanan, dan melalui permainan-permainan. Dalam pendidikan anak, peran orangtua tak tergantikan dan rumah merupakan basis utama pendidikan anak. Banyak permainan eksplorasi yang bisa mengasah kemampuan logika matematika anak, namun tentu hal ini harus disesuaikan dengan usia anak. Saat anak balita bermain pasir, anak sesungguhnya sedang menghidupkan otot tangannya yang melatih motorik halusnya sehingga kelak anak mampu memegang pensil, menggambar dan lain-lain. Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika. Ketika kita mengenalkan angka pada anak jangan hanya sebagai simbol, misalnya kita mempunyai dua jeruk, sediakan dua buah jeruk. Sehingga anak paham tentang konsep angka dan bilangan. Lagu juga bisa menjadi media untuk memperkenalkan berbagai tema tentang angka. Seperti lagu balonku ada . Atau kita bisa berkreasi menciptakan lagu sederhana sendiri sambil memperagakan jari kita sebagai alat untuk menghitung, sehingga secara perlahan anak mudah menangkap konsep abstrak dalam bilangan. Setelah anak mengenal bilangan 1 sampai 10, maka bisa dikenalkan bilangan nol. Memberikan pemahaman konsep bilangan nol pada anak usia dini tidaklah mudah. Permainan ini dapat dilakukan dengan menghitung magnet yang ditempelkan di kulkas. Cobalah mengambil satu persatu dan mintalah anak menghitung yang tersisa. Lakukan berulangkali sehingga magnet di kulkas tidak ada lagi yang melekat. Saat itu dapat diunjukkan bahwa yang dilihat pada kulkas adalah 0 (nol) magnet. Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa. Bisa juga membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran. Sesekali lakukan juga kegiatan membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu. Memasak sambil melihat resep juga melatih keterampilan membaca dan belajar kosakata. Jangan risaukan keadaan dapur yang akan menjadi kotor dan berantakan dengan tepung dan barang-barang yang bertebaran, karena seperti slogan sebuah iklan bahwa berani kotor itu baik. Anak senang dan tanpa sadar mereka telah belajar banyak hal. Saat dimeja makan pun kita mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekelurga kebagian semua, puding ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila puding sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan. Kita dapat juga memberikan konsep matematika seperti pemahaman kuantitas, seperti berapa jumlah ikan hias di akuarium. Ketika bersantai di depan rumah, anak diajak menghitung berapa banyak motor yang lewat dalam 10 menit. Kenalkan juga konsep perbandingan seperti lebih besar, lebih kecil dan sebagainya, misalnya dengan menanyakan pada anak roti bolu dengan roti donat mana yang ukurannya lebih besar. Saat kita mengenalkan dan menanyakan pada anak bahwa mobil bergerak lebih cepat daripada motor, pohon kelapa lebih tinggi dari pohon jambu, atau tas kakak lebih berat daripada tas adik, sebenarnya hal ini sudah termasuk mengajarkan anak pada konsep kecepatan, panjang dan berat, sehingga fungsi kecerdasan matematikanya menjadi aktif. Untuk kegiatan di luar rumah, ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya. Kita juga bisa memberikan game-game dalam komputer yang edukatif yang mampu merangsang kecerdasan anak. Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung dan juga bermanfaat melatih kemampuan manipulasi motorik halus terutama melatih kekuatan jari tangan yang di kemudian hari bermanfaat untuk persiapan menulis. Selama bermain anak dituntut untuk fokus mengikuti alur permainanyang pada gilirannya akan melatih konsentrasi dan ketekunan anak yang dibutuhkan saat anak mengikuti pelajaran disekolah. Mengapa stimulasi untuk kecerdasan anak banyak melalui permainan-permainan dan kegiatan bermain yang menyenangkan? Karena dengan bermain akan membuat anak dapat mengekspresikan gagasan dan perasaan serta membuat anak menjadi lebih kreatif. Dengan bermain juga akan melatih kognisi atau kemampuan belajar anak berdasarkan apa yang dialami dan diamati dari sekelilingnya. Saat memainkan permainan yang menantang, anak memiliki kesempatan dalam memecahkan masalah (problem solving). Misalnya menyusun lego atau bermain pasel. Anak dihadapkan pada masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas. Dan ini juga akan melatih ketika anak kelak di sekolah mendapat pelajaran-pelajaran matematika yang berdasarkan pemecahan masalah (problem solving). Bagi usia prasekolah, ketika orangtua sudah mulai merangsang kecerdasan logis matematis dirumah, maka akan lebih mudah bagi anak menerima konsep matematika ketika mulai masuk sekolah. Bagi anak yang telah masuk sekolah, orangtua juga harus terus mendukung dengan memberikan berbagai macam eksplorasi ataupun permainan-permainan yang semakin mengasah kecerdasan matematik logis anak dengan cara yang kreatif dan menyenangkan untuk terus menarik keingintahuan anak. Dengan demikian anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman siswa dan problem solving (pemecahan masalah), kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik sehingga matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu. Dalam buku yang berjudul ”Menjadi Guru Yang Mampu dan Bisa Mengajar” disebutkan Learning is Most Effective When It’s Fun.
D. Urgensi Kecerdasan Logika Matematika pada Anak Usia Dini
Satu-satu, aku sayang ibu. Dua-dua, aku sayang ayah. Tiga-tiga, sayang adik kakak. Satu dua tiga sayang semuanya.
Apa hubungan lagu Satu-Satu Aku Sayang Ibu dengan logika matematis? Ternyata pengenalan urutan kesatu, kedua, lalu ketiga itu merupakan salah satu contoh logika matematis. Nah penguasaan logika dan penalaran matematis ini disebut kecerdasan logis matematis. Kecerdasan ini dipopulerkan oleh Howard Gardner, profesor pendidikan di yang memasukkannya sebagai bagian dari kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence). Lebih lengkapnya, kecerdasan logis matematis adalah kemampuan memahami suatu kondisi atau keadaan dengan menggunakan perhitungan matematis dan melalui penalaran logika. Fokusnya yaitu kemampuan memecahkan suatu masalah secara logis berdasarkan informasi-informasi yang dimiliki. Sering disebut juga sebagai kemampuan analisis. Jadi, kecerdasan logis matematis tak dibatasi pada kemampuan memecahkan soal hitung-hitungan saja.
Pada dasarnya, semua anak memiliki kecerdasan logis matematis. Hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Minat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan berhitung (pada khususnya) juga memengaruhi perkembangan kecerdasan ini. Satu hal yang pasti, kecerdasan ini perlu dikembangkan―terlebih di usia prasekolah―karena anak diharapkan mampu melakukan tugas-tugas sederhana yang mungkin saja mengandung beberapa persoalan yang harus dipecahkannya.
Contoh, ketika anak diminta merapikan mainan yang berserakan, dia tahu bagaimana cara merapikannya dengan memilah-milah dan memasukkannya ke dalam boks mainan berdasarkan tipenya, merapikan buku-buku berdasarkan ukurannya ke rak, dan sebagainya. Contoh lain, jika tiba-tiba mobil-mobilannya tidak bisa jalan, anak diharapkan dapat mencari apa penyebabnya secara logis dan sistematis berdasarkan segala informasi yang dimilikinya. Anak yang memiliki kecerdasan logis matematis yang baik, akan mudah memahami situasi maupun kondisi yang tengah dihadapi, kemudian berusaha memecahkan masalahnya.
Dalam faktanya, matematika merupakan salah satu matapelajaran di sekolah yang mendapatkan perhatian “lebih” baik dari kalangan guru, orangtua maupun anak. Selain matematika adalah termasuk matapelajaran yang diujikan dalam ujian nasional (UN) juga masih ditemukan banyak pihak yang memiliki persepsi bahwa matematika adalah pengetahuan terpenting yang harus dikuasai anak.
Tetapi, dalam kenyataan yang dihadapi saat ini, masih terdapat anak yang belum dibekali kemampuan untuk berprestasi cemerlang di bidang matematika. Seolah-olah mereka, dihadapkan pada dua hal yang dilematis, di satu sisi mereka “harus” menguasai matematika, di sisi lain ia merasa lemah untuk belajar matematika. Mungkinkah hal ini, akibat dari sistem pendidikan kita yang salah? Pola pengasuhan orangtua yang keliru? Atau memang potensi matematisnya tidak dikembangkan sejak usia dini? Atau “jangan-jangan” mereka tidak mau belajar karena merasa tidak butuh dengan matematika.
Hakikatnya, setiap individu itu dalam kehidupannya pasti membutuhkan matematika (meski tingkat sederhana, misal: jual beli). Dan, pada prinsipnya setiap anak itu dikaruniai kemampuan matematis, yakni memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini bahkan sebelum usia sekolah. Anak usia pra-sekolah sudah mengerti tentang kuantitas, misalnya banyak dan sedikitnya benda, jumlah saudaranya, dll. Sekarang, tinggal tugas orangtua dan pendidik lah untuk mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.
Kecerdasan matematis memuncak pada masa remaja dan masa awal dewasa. Beberapa kemampuan matematika tingkat tinggi akan menurun setelah usia 40 tahun. Kecerdasan matematis logis dikategorikan sebagai kecerdasan akademik, karena dukungannya yang tinggi dalam keberhasilan studi seseorang. Dalam tes IQ, kecerdasan matematis logis sangat diutamakan. Oleh karenanya, matematika menjadi “bermakna” dalam kehidupan individu manusia.
Nah, berpijak pada uraian singkat tersebut, kita menjadi maklum bahwa dalam setiap individu ternyata telah terdapat potensi kecerdasan matematis. Oleh karenanya, tinggal bagaimana kita sebagai orangtua, guru, pendamping dapat mengembangkan kecerdasan tersebut sejak usia dini. Harapannya, ketika tumbuh dewasa anak-anak tidak lagi kesulitan untuk mencari potensi matematisnya.
Dengan demikian, PAUD menjadi sarana efektif untuk menggali dan mengembangan kecerdasan matematis yang dimiliki anak. Tentunya, dengan cara yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak. Misalnya, menghitung jumlah kue, jumlah uang, memperlihatkan warna-warni baju, menghitung banyaknya kotak keramik, dll. Dengan berusaha menggali dan mengembangkan kecerdasan matematis anak sejak usia dini, diharapkan ketika masuk jenjang pendidikan selanjutnya, anak tidak lagi merasa kesulitan untuk menerima materi pelajaran matematika.
E. Kemampuan Logis-Matematis Anak Prasekolah
Nah, berikut ini kemampuan logis matematis yang seyogianya dikuasai anak usia dini (early childhood) dan bagaimana menstimulasinya.
1. Kategorisasi/Penggelompokan
Anak dapat memilah-milah/mengelompokkan/mengategorisasikan segala sesuatu berdasarkan warna, bentuk, ukuran atau lainnya.
Contoh stimulasi:
Minta anak mengelompokkan sedotan―gunakan sedotan warna-warni―sesuai warnanya; mana yang merah, hijau, biru, dan seterusnya. Atau, minta anak menyusun buku-buku ceritanya dari yang kecil/tipis sampai yang ukuran tebal; merapikan koleksi mobil-mobilannya dari yang kecil-kecil hingga yang besar; dan lainnya.
2. Mencocokkan/Menghubungkan
Secara nalar dan logika anak dapat menghubungkan atau mencocokkan suatu sebab-akibat, suatu keadaan dan kondisi tertentu atau mengasosiasikan sesuatu.
Contoh stimulasi:
Lakukan dengan bantuan gambar. Misal, di sebelah kiri ada deretan simbol angka 1, 2, 3, 4, dan 5; di sebelah kanan ada deretan gambar apel dengan jumlah tertentu. Kemudian, minta anak menghubungkan dengan garis antara simbol angka dengan jumlah apel yang sesuai.
3. Komparasi/Perbandingan
Anak bisa membandingkan sesuatu dari banyak hal, apakah itu warna, pola-pola tertentu, bentuk, ukuran, dan lainnya.
Contoh stimulasi:
Letakkan dua atau lebih suatu benda di meja, lalu minta anak menyebutkan mana yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar. Bisa juga orangtua meletakkan beberapa gelas berisi air dan minta anak menyebutkan mana yang lebih banyak dan lebih sedikit airnya.
4. Pemahaman Bentuk Geometri
Dapat mengenal bentuk-bentuk geometri sederhana seperti bulat, persegi panjang, segitiga, dan sebagainya.
Contoh stimulasi:
Minta anak menghitung jumlah bentuk segitiga pada sebuah gambar rumah yang sederhana atau menghitung jumlah roda pada alat transportasi seperti becak, sepeda, dan sebagainya.
5. Pemahaman Bilangan (number bond)
Anak terampil mengolah angka dan menggunakan perhitungan matematis. Angka juga suatu simbol yang digunakan untuk berbagai macam hal, apakah itu menunjukkan waktu, ukuran, harga, dan sebagainya. Yang termasuk dalam kemampuan ini adalah:
a. Mengurutkan Bilangan (Membilang)
Dapat membilang atau mengurutkan angka secara bertahap, seperti menyebutkan bilangan 1-5, kemudian sampai 10, dan seterusnya disesuaikan dengan kemampuan anak. Di sini anak juga belajar mengenai konsep dasar angka, dimana angka 1 lebih sedikit jumlahnya dari angka 2, angka 2 lebih sedikit jumlahnya dari angka 3, dan seterusnya. Konsep angka ini juga berguna bagi anak untuk bisa menyatakan waktu, memutar nomor telepon, dan sebagainya.
Cara stimulasi:
Paling mudah lewat nyanyian, seperti lagu, "Satu-satu aku sayang ibu…." Atau, ketika naik turun tangga, minta anak sambil menyebutkan bilangan secara urutan. Bisa juga dengan bantuan benda seperti apel/bola yang dimasukkan ke dalam keranjang, "1 apel, 2 apel, 3 apel,.." Sambil anak diajak menghitung bendanya.
b. Perhitungan Sederhana
Dapat melakukan penjumlahan dan pengurangan sederhana. Konsep perhitungan ini dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, semisal ketika berbelanja.
Cara stimulasi:
Lakukan lewat nyanyian, seperti, “Satu ditambah satu sama dengan dua. Dua di tambah dua….” atau lagu-lagu lain yang orangtua dapat ciptakan sendiri. Bisa juga dengan mengajak anak bermain “tambah kurang”. Contoh, letakkan beberapa buah kubus mainan si kecil, lalu katakan, “Adek, lihat nih, Ibu punya 1 kubus (sambil meletakkan 1 kubus). Kemudian, Adek memberikan 2 kubus kepada Ibu (sambil meletakkan 2 kubus tersebut di dekat kubus yang pertama). Nah, sekarang kubus Ibu ada berapa, ya? Coba Adek hitung....” Begitu pun dengan pengurangan, namun agar anak mngerti jangan gunakan kata “dikurang” tetapi “diambil”.
Belajar matematika tak harus serius, namun bisa menyisipkannya dalampengalaman sehari-hari. Berikan pemahaman konsep matematika seperti mengajarkan anak pemahaman kuantitas. Tanyakan padanya es krim A dengan B mana yang ukurannya lebih besar. Yang penting, papar Abdur, orangtua memberikan stimulasi yang memadai. Saat anak sudah bisa berkomunikasi, Anda bisa memasukkan informasi seperti pengenalan konsep perbandingan lebih besar, lebih kecil, dan sebagainya. Angka hanyalah simbol, sebaiknya anak memahami proses dibalik angka. "Dari magnitude inilah anak bisa mulai mengenal konsep angka, hal inilah yang terkadang sering diabaikan orangtua," ujarnya.
Ketika Anda mengenalkan dan menanyakan pada anak si A berlari lebih kencang dibanding B atau si B lebih tinggi dibandingkan A, atau tas a lebih berat dibanding tas b, sebenarnya Anda sudah mengajarkan pada anak konsep kecepatan, panjang dalam meter atau berat dalam kilogram. Dengan demikian, fungsi kecerdasan matematika sudah aktif. "Sejauh anak bisa memahami itu, orangtua bisa memberikan stimulasi yang lebih tinggi," katanya. Jika ingin memasukkan anak ke lembaga khusus matematika, coba tinjau kembali apakah kebutuhan tersebut dapat terpenuhi.
Berikan penguatan jika pemahaman anak benar, sebaliknya luruskan pemahamannya yang menyimpang. Misalnya, ketika anak mengatakan kecambah akan tumbuh bertambah besar, artinya anak berpikir tak hanya tambah tinggi namun juga volumenya lebih besar, katakan 'Ya kamu benar' sebaliknya jika anak tak mampu menebak Anda bisa memancing dengan pertanyaan `apakah jadi lebih besar atau lebih tinggi?'. Ini salah satu bentuk orangtua mengevaluasi anak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian pembahasan pada bab II di atas, maka sampailah penulis pada kesimpulan. Adapun kesimpulan yang dapat penulis tarik adalah sebagai berikut:
1. Kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan melakukan penalaran, beurusan dengan angka dan kemampuan untuk memecahkan masalah dengan rasional dan berpikir jernih.Contohnya: biasanya anak akan melihat suatu mesin bukan dari keindahannya tetapi dari bagaimana cara kerja mesin itu (urutan kerjanya), juga biasanya senag main catur dan otomatis biasanya senang dengan pelajaran matematika.Kecendengannya nanti pada saat bekerja juga ada hubungannya dengan angka-angka tersebut.
2. Kita bisa mengenalkan pertama kali pemahaman konsep matematika sejak usia dini dari lingkungan sekitar kita dan pengalaman sehari-hari anak serta memberikan stimulasi yang mendukung. Tentu saja hal ini dilakukan tanpa paksaan dan tekanan, dan melalui permainan-permainan. Dalam pendidikan anak, peran orangtua tak tergantikan dan rumah merupakan basis utama pendidikan anak. Banyak permainan eksplorasi yang bisa mengasah kemampuan logika matematika anak, namun tentu hal ini harus disesuaikan dengan usia anak. Saat anak balita bermain pasir, anak sesungguhnya sedang menghidupkan otot tangannya yang melatih motorik halusnya sehingga kelak anak mampu memegang pensil, menggambar dan lain-lain. Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.
B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan dalam makalah yang sederhana ini di antaranya adalah:
1. Dalam setiap individu ternyata telah terdapat potensi kecerdasan matematis. Oleh karenanya, tinggal bagaimana kita sebagai orangtua, guru, pendamping dapat mengembangkan kecerdasan tersebut sejak usia dini. Harapannya, ketika tumbuh dewasa anak-anak tidak lagi kesulitan untuk mencari potensi matematisnya.
2. PAUD diharapkan dapat menjadi sarana efektif untuk menggali dan mengembangan kecerdasan matematis yang dimiliki anak. Tentunya, dengan cara yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak. Misalnya, menghitung jumlah kue, jumlah uang, memperlihatkan warna-warni baju, menghitung banyaknya kotak keramik, dll. Dengan berusaha menggali dan mengembangkan kecerdasan matematis anak sejak usia dini, diharapkan ketika masuk jenjang pendidikan selanjutnya, anak tidak lagi merasa kesulitan untuk menerima materi pelajaran matematika.
DAFTAR PUSTAKA
Adiningsih, Heni Utami. RUU Sikdiknas Abaikan Pendidikan Anak Dini Usia. http:///www.pikiran .com/cetak/0403/15/0801.htm (Diakses Mei 2003)
Agustian, Ary Gunanjar.2002. Rahasia Sukses Membangun Keserdasan Emosi Dan Spiritual dan Spiritual: Esq (Emotional Spiritual Quotient) Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. : Arga Wijaya Persada.
Ahmar, Rosanah. Bercerita Kisah Al Quran Bantu Bentuk Watak Anak. http://www.danchan.com/weblog/wadah/65567 (Diakses Mei 2003)
Choun, Robert j.dan Michael s. Lawson, 1993. The Complete Handbook For Children Ministry: How To Reach and Teach Next Generation. :Thomas Nelson Publisher.
Dunia Anak: Prestasi Anak, Untuk Anak Atau Orangtua?. http://www.glorianet.org/keluarga/anak/anak pres.html (Diakses Mei 2003)
Sikap Religius Berawal dari Teladan: Kelaurga Menjadi Soko Guru bagi Pertumbuhan Sikap Religius Anak. Hal Penting yang Kelak akan Membawa Anak kepada Pencitraan Tuhan Secara Benar dalam Semangat Kesantunan dan Tolransi. http://www.indomedia.com/intisari/2002/02/khas_keluarga2. htm (Diakses Mei 2003)
Nogroho. 2003. “Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak Usia Dini Melalui Bercerita”. Makalah ini disajikan dalam Seminar Nasional Kelompok Studi Psikolinguistik Jurusan Bahasa dan Sastra .
Pua, S.R. Bercerita pada Anak Oleh Tim Bengkel Pak-STTT Jakarta. http://asmbektinm.tripod.com/renung/renungGSM01.htm (Diakses Mei 2003)
Rakhmat, Jalaludin. Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak. http://www.muthahhari.or.id/doc/artikel/sqanak.htm (Diakses Mei 2003)
Sarumpaet, Riris K. Toha. 2003. Anak dan Dunia “Raja Kurus Dan Koki Gemuk”. Makalah ini disajikan dalam seminar nasional kelompok studi psikolinguistik jurusan bahasa dan sastra .
Soekresno, Emmy. Masa-Masa Penting Pertumbuhan Anak. http://.balitacerdas.com/kembang/masapenting/html. (Diakses Mei 2003)
A. Latar Belakang Masalah Sesungguhnya setiap anak dilahirkan cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intelligences, menyatakan terdapat delapan kecerdasan pada manusia yaitu: kecerdasan linguistik/verbal/bahasa, kecerdasan matematis logis, kecerdasan visual/ruang/spasial, kecerdasan musikal/ritmis, kecerdasan kinestetik jasmani, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Tugas orangtua dan pendidik lah mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak. dalam faktanya, matematika merupakan salah satu matapelajaran di sekolah yang mendapatkan perhatian “lebih” baik dari kalangan guru, orangtua maupun anak. selain matematika adalah termasuk matapelajaran yang diujikan dalam ujian nasional (un) juga masih ditemukan banyak pihak yang memiliki persepsi bahwa matematika adalah pengetahuan terpenting yang harus dikuasai anak. tetapi, dalam kenyataan yang dihadapi saat ini, masih terdapat anak yang belum dibekali kemampuan untuk berprestasi cemerlang di bidang matematika. seolah-olah mereka, dihadapkan pada dua hal yang dilematis, di satu sisi mereka “harus” menguasai matematika, di sisi lain ia merasa lemah untuk belajar matematika. mungkinkah hal ini, akibat dari sistem pendidikan kita yang salah? pola pengasuhan orangtua yang keliru? atau memang potensi matematisnya tidak dikembangkan sejak usia dini? atau “jangan-jangan” mereka tidak mau belajar karena merasa tidak butuh dengan matematika. hakikatnya, setiap individu itu dalam kehidupannya pasti membutuhkan matematika (meski tingkat sederhana, misal: jual beli). dan, pada prinsipnya setiap anak itu dikaruniai kemampuan matematis, yakni memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini bahkan sebelum usia sekolah. anak usia pra-sekolah sudah mengerti tentang kuantitas, misalnya banyak dan sedikitnya benda, jumlah saudaranya, dll. sekarang, tinggal tugas orangtua dan pendidik lah untuk mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak. kecerdasan matematis memuncak pada masa remaja dan masa awal dewasa. beberapa kemampuan matematika tingkat tinggi akan menurun setelah usia 40 tahun. kecerdasan matematis logis dikategorikan sebagai kecerdasan akademik, karena dukungannya yang tinggi dalam keberhasilan studi seseorang. dalam tes iq, kecerdasan matematis logis sangat diutamakan. oleh karenanya, matematika menjadi “bermakna” dalam kehidupan individu manusia. nah, berpijak pada uraian singkat tersebut, kita menjadi maklum bahwa dalam setiap individu ternyata telah terdapat potensi kecerdasan matematis. oleh karenanya, tinggal bagaimana kita sebagai orangtua, guru, pendamping dapat mengembangkan kecerdasan tersebut sejak usia dini. harapannya, ketika tumbuh dewasa anak-anak tidak lagi kesulitan untuk mencari potensi matematisnya. dengan demikian, paud menjadi sarana efektif untuk menggali dan mengembangan kecerdasan matematis yang dimiliki anak. tentunya, dengan cara yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak. misalnya, menghitung jumlah kue, jumlah uang, memperlihatkan warna-warni baju, menghitung banyaknya kotak keramik, dll. dengan berusaha menggali dan mengembangkan kecerdasan matematis anak sejak usia dini, diharapkan ketika masuk jenjang pendidikan selanjutnya, anak tidak lagi merasa kesulitan untuk menerima materi pelajaran matematika. dari uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk menulis sebuah makalah dengan judul "pengaruh kecerdasan logika matematika dalam pendidikan anak usia dini". B. Perumusan Masalah Agar pembahasan dalam makalah ini sistematis, maka penulis merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud kecerdasan logika matematika? 2. Bagaimana cara mengasah kecerdasan logika matematika pada anak? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui definisi kecerdasan logika matematika. 2. Untuk mengetahui cara mengasah kecerdasan logika matematika pada anak usia dini. D. Kerangka Berpikir Rendahnya mutu pendidikan masih disandang bangsa . Hal ini dapat diminimalkan dengan mengoptimalkan pendidikan pada anak sejak dini, terutama pendidikan matematika. Mengingat image masyarakat terhadap matematika yang menganggap pelajaran yang menakutkan. Padahal, matematika dapat diberikan kepada anak sejak usia 0+ tahun. Anak pada usia 0-6 tahun perlu mendapat perhatian khusus karena pada usia inilah kesiapan mental dan emosional anak mulai dibentuk. Penelitian terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menunjukkan bahwa mutu pendidikan dan keberhasilan akademis secara signifikan dipengaruhi oleh kualitas masukan pendidikan yaitu kesiapan mental dan emosional anak memasuki sekolah dasar. Anak mulai belajar dan beradaptasi dengan lingkungannya sejak bayi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan otak bayi dibentuk pada usia 0-6 tahun. Oleh sebab itu asupan nutrisi yang cukup juga harus diperhatikan. Para ahli neurologi meyakini sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia terjadi pada usia 4 tahun, 80% terjadi ketika usia 8 tahun, dan 100% ketika anak mencapai usia 8 - 18 tahun. Itulah sebabnya, mengapa masa anak-anak dinamakan masa keemasan. Sebab, setelah masa perkembangan ini lewat, berapapun kapabilitas kecerdasan yang dicapai oleh masing-masing individu, tidak akan meningkat lagi. Bagi yang memiliki anak, tentu tidak ingin melewatkan masa keemasan ini. Berdasarkan kajian neurologi dan psikologi perkembangan, kualitas anak usia dini disamping dipengaruhi oleh faktor bawaan juga dipengaruhi faktor kesehatan, gizi dan psikososial yang diperoleh dari lingkungannya. Maka faktor lingkungan harus direkayasa dengan mengupayakan semaksimal mungkin agar kekurangan yang dipengaruhi faktor bawaan tersebut bisa diperbaiki. Dalam tahun-tahun pertama kehidupan, otak anak berkembang sangat pesat dan menghasilkan bertrilyun-trilyun sambungan yang memuat berbagai kemampuan dan potensi. Nutrisi bagi perkembangan anak merupakan benang merah yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Setidaknya terdapat 6 aspek yang harus diperhatikan terkait dengan perkembangan anak antara lain: pertama, perkembangan fisik: hal ini terkait dengan perkembangan motorik dan fisik anak seperti berjalan dan kemampuan mengontrol pergerakan tubuh. Kedua, perkembangan sensorik: berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan panca indra dalam mengumpulkan informasi. Ketiga, perkembangan komunikasi dan bahasa: terkait dengan kemampuan menangkap rangsangan visual dan suara serta meresponnya, terutama berhubungan dengan kemampuan berbahasa dan mengekspresikan pikiran dan perasaan. Keempat, perkembangan kognitif: berkaitan dengan bagaimana anak berpikir dan bertindak. Kelima, perkembangan emosional: berkaitan dengan kemampuan mengontrol perasaan dalam situasi dan kondisi tertentu. Keenam, perkembangan sosial: berkaitan dengan kemampuan memahami identitas pribadi, relasi dengan orang lain, dan status dalam lingkungan sosial. orang tua juga dituntut untuk memahami fase-fase pertumbuhan anak. Fase pertama, mulai pada usia 0-1 tahun. Pada permulaan hidupnya, anak diusia ini merupakan suatu mahkluk yang tertutup dan egosentris. Ia mempunyai dunia sendiri yang berpusat pada dirinya sendiri. Dalam fase ini, anak mengalami pertumbuhan pada semua bagian tubuhnya. Ia mulai terlatih mengenal dunia sekitarnya dengan berbagai macam gerakan. Anak mulai dapat memegang dan menjangkau benda-benda disekitarnya. Ini berarti sudah mulai ada hubungan antara dirinya dan dunia luar yang terjadi pada pertengahan tahun pertama (� 6 bulan). Pada akhir fase ini terdapat dua hal yang penting yaitu: anak belajar berjalan dan mulai belajar berbicara. Fase kedua, terjadi pada usia 2-4 tahun. Anak semakin tertarik kepada dunia luar terutama dengan berbagai macam permainan dan bahasa. Dunia sekitarnya dipandang dan diberi corak menurut keadaan dan sifat-sifat dirinya. Disinilah mulai timbul kesadaran akan "Akunya". Anak berubah menjadi pemberontak dan semua harus tunduk kepada keinginannya. Fase ketiga, terjadi pada usia 5-8 tahun. Pada fase pertama dan kedua, anak masih bersifat sangat subjektif namun pada fase ketiga ini anak mulai dapat melihat sekelilingnya dengan lebih objektif. Semangat bermain berkembang menjadi semangat bekerja. Timbul kesadaran kerja dan rasa tanggung jawab terhadap kewajibannya. Rasa sosial juga mulai tumbuh. Ini berarti dalam hubungan sosialnya anak sudah dapat tunduk pada ketentuan-ketentuan disekitarnya. Mereka mengingini ketentuan-ketentuan yang logis dan konkrit. Pandangan dan keinginan akan realitas mulai timbul. Untuk pendidikan matematika dapat diberikan pada anak usia 0+ tahun sambil bermain, karena waktu bermain anak akan mendapat kesempatan bereksplorasi, bereksperimen dan dengan bebas mengekspresikan dirinya. Dengan bermain, tanpa sengaja anak akan memahami konsep-konsep matematika tertentu dan melihat adanya hubungan antara satu benda dan yang lainnya. Anak juga sering menggunakan benda sebagai simbul yang akan membantunya dalam memahami konsep-konsep matematika yang lebih abstrak. Ketika bermain, anak lebih terstimulasi untuk kreatif dan gigih dalam mencari solusi jika dihadapkan atau menemukan masalah. Pada pendidikan matematika dapat diberikan misalnya pada pengenalan bilangan, terlebih dahulu diperdengarkan angka dengan menyebutkan angka satu, dua, tiga dan seterusnya. Dan perlihatkan benda-benda berjumlah satu, dua, tiga dan seterusnya, bukan berarti materinya langsung mengenalkan lambang bilangan "dua" karena anak akan bingung. Dengan bertambahnya kecerdasan dan umur barulah diperkenalkan ke lambang bilangan. Pengenalan geometri, anak diberikan berbagai macam bentuk bangun misalnya bola, kotak, persegi, lingkaran dan sebagainya. Dengan memerintahkan anak mengambil bangun yang disebutkan nama dan ciri-cirinya. Pengenalan penjumlahan dan pengurangan, pakailah bola berdiameter sama yang dapat digenggam. Untuk pengurangan, sebanyak bola diambil satu, dua, ..., dan . Sebaliknya penjumlahan dengan menambahkan satu, dua, ..., sampai empat pada bola yang tergenggam. Mengingat ciri khas pada setiap jumlah bola yang sering dilihatnya, anak pun akan melihat kejanggalan ketika dikurangi atau ditambah. Peristiwa tersebut membuatnya semakin memahami hakikat "bertambah" dan "berkurang", yang ditandai perubahan jumlah bola yang digenggamnya. Apalagi pada peragaan bola yang diameter dan warnanya beragam, pemahamannya tidak lagi terikat dengan ukuran, tetapi pada jumlah bola yang tampak. Pengenalan hubungan atau pengasosiasian antara benda, misalnya berikan kotak dan dilanjutkan dengan memperlihatkan benda yang berbentuk kotak lain seperti kotak susu, bungkus sabun dan sebagainya. Dibenak anak dapat menghubungkan antar kotak yang satu dengan yang lainnya. Sehingga pendidikan matematika dapat diberikan kepada anak usia dini dimulai dari pendidikan keluarga, yang dilakukan oleh orang tua sebagai guru terdekat sang anak. Peran penting yang dapat dilakukan orang tua yaitu sebagai: Pertama, pengamat. Orang tua mengamati apa yang dilakukan oleh anak sehingga dapat mengikuti proses yang berlangsung. Ketika dibutuhkan, orang tua dapat memberikan dukungan dengan mengacungkan jempol, mengangguk tanda setuju, menyatakan rasa sukanya, bahkan ikut bermain. Kedua, manajer. Orang tua memperkaya ide anak dengan ikut mempersiapkan peralatan sampat tempat bermain. Ketiga, teman bermain. Orang tua ikut bermain dengan kedudukan sejajar dengan anak. Keempat, pemimpin (play leader). Dalam hal ini orang tua berperan menjadi teman bermain, sekaligus memberikan pengayaan dengan memperkenalkan cara serta tema baru dalam bermain. Pengaruh orang tua sebagai "guru" pada anak memiliki porsi terbesar dilingkungannya, sehingga orang tua dalam mendidik dapat beracuan: pertama, berorientasi pada anak (pupil centered). Dalam mengajar anak tidak dengan komunikasi satu arah dengan kata lain orang tua dinyatakan orang yang paling tahu dan paling pandai. Kedua, dinamis. Dalam mendidik anak bawalah mereka sambil bermain dan orang tua dapat memancing anak untuk memunculkan ide kreatif dan inovatifnya. Ketiga, demokratis. Ini berarti, memberikan kesempatan pada anak untuk menuangkan pikirannya dan bersikap tidak sok kuasa. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kecerdasan Logika Matematika Kecerdasan (Inteligensi)secara umum dipahami pada dua tingkat yakni : 1. Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. 2. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya. Sementara itu, yang dimaksud dengan kecerdasan matematis logis menurut adalah kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan. Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya. Anak dengan kemampuan ini akan senang dengan rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual. Kecerdasan logis matematis adalah kemampuan memahami suatu kondisi atau keadaan dengan menggunakan perhitungan matematis dan melalui penalaran logika. Fokusnya yaitu kemampuan memecahkan suatu masalah secara logis berdasarkan informasi-informasi yang dimiliki. Sering disebut juga sebagai kemampuan analisis. Jadi, kecerdasan logis matematis tak dibatasi pada kemampuan memecahkan soal hitung-hitungan saja. Kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan melakukan penalaran, beurusan dengan angka dan kemampuan untuk memecahkan masalah dengan rasional dan berpikir jernih.Contohnya: biasanya anak akan melihat suatu mesin bukan dari keindahannya tetapi dari bagaimana cara kerja mesin itu (urutan kerjanya), juga biasanya senag main catur dan otomatis biasanya senang dengan pelajaran matematika.Kecendengannya nanti pada saat bekerja juga ada hubungannya dengan angka-angka tersebut. Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematik dan kecerdasan linguistik. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan linguistik diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa. Bentuk kecerdasan ini termasuk yang paling mudah distandarisasikan dan diukur. Kecerdasan ini sebagai pikiran analitik dan sainstifik, dan bisa melihatnya dalam diri ahli sains, programmer komputer, akuntan, banker dan tentu saja ahli matematika. Berkaitan dengan pelajaran matematika. Tokoh-tokoh yang terkenal antara lain Madame Currie, Blaise Pascal, B.J. Habibie. B. Ciri-Ciri Kecerdasan Logika Matematika Kecerdasan Matematis-logis berhubungan dengan pola, rumus-rumus, angka-angka dan logika. Orang-orang ini cenderung pintar dalam teka-teki, gambar, aritmatika, dan memecahkan masalah matematika, mereka seringkali menyukai komputer dan pemrograman. Ciri-ciri lain dari kecerdasan logika matematika ini di antaranya adalah: 1. banyak bertanya tentang cara kerja suatu hal, 2. suka bekerja atau bermain dengan angka, 3. lebih tertarik pada game matematika dan komputer dibandingkan permainan lain, 4. suka mengerjakan teka teki logika atau soal-soal angka yang sulit, suka dan memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran matematika, 5. sering melakukan percobaan mengenai ilmu pasti, pada saat pelajaran maupun pada waktu luangnya, suka membuat kategori, hierarki, atau pola logis lain, 6. suka permainan catur, main dam, atau permainan strategi lain, 7. mudah memahami rumus dan cara kerjanya serta tepat dalam mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari dan 8. pandai menggunakan pengetahuannya dan memberi pendapatnya untuk memecahkan persoalan sehari-hari. Menurut Gardner, ciri anak cerdas matematik logis pada usia balita, anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut, mengamati benda-benda yang unik baginya, hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba. Seperti bagaimana jika kakiku masuk kedalam ember penuh berisi air atau penasaran menyusun puzzle. Mereka juga sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan. Selain itu anak juga suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung. C. Merangsang Kecerdasan Logika Matematika pada Anak Usia Dini Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan. Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya. Anak dengan kemampuan ini akan senang dengan rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual. Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematik dan kecerdasan linguistik. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan linguistik diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa. Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? Kita bisa mengenalkan pertama kali pemahaman konsep matematika sejak usia dini dari lingkungan sekitar kita dan pengalaman sehari-hari anak serta memberikan stimulasi yang mendukung. Tentu saja hal ini dilakukan tanpa paksaan dan tekanan, dan melalui permainan-permainan. Dalam pendidikan anak, peran orangtua tak tergantikan dan rumah merupakan basis utama pendidikan anak. Banyak permainan eksplorasi yang bisa mengasah kemampuan logika matematika anak, namun tentu hal ini harus disesuaikan dengan usia anak. Saat anak balita bermain pasir, anak sesungguhnya sedang menghidupkan otot tangannya yang melatih motorik halusnya sehingga kelak anak mampu memegang pensil, menggambar dan lain-lain. Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika. Ketika kita mengenalkan angka pada anak jangan hanya sebagai simbol, misalnya kita mempunyai dua jeruk, sediakan dua buah jeruk. Sehingga anak paham tentang konsep angka dan bilangan. Lagu juga bisa menjadi media untuk memperkenalkan berbagai tema tentang angka. Seperti lagu balonku ada . Atau kita bisa berkreasi menciptakan lagu sederhana sendiri sambil memperagakan jari kita sebagai alat untuk menghitung, sehingga secara perlahan anak mudah menangkap konsep abstrak dalam bilangan. Setelah anak mengenal bilangan 1 sampai 10, maka bisa dikenalkan bilangan nol. Memberikan pemahaman konsep bilangan nol pada anak usia dini tidaklah mudah. Permainan ini dapat dilakukan dengan menghitung magnet yang ditempelkan di kulkas. Cobalah mengambil satu persatu dan mintalah anak menghitung yang tersisa. Lakukan berulangkali sehingga magnet di kulkas tidak ada lagi yang melekat. Saat itu dapat diunjukkan bahwa yang dilihat pada kulkas adalah 0 (nol) magnet. Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa. Bisa juga membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran. Sesekali lakukan juga kegiatan membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu. Memasak sambil melihat resep juga melatih keterampilan membaca dan belajar kosakata. Jangan risaukan keadaan dapur yang akan menjadi kotor dan berantakan dengan tepung dan barang-barang yang bertebaran, karena seperti slogan sebuah iklan bahwa berani kotor itu baik. Anak senang dan tanpa sadar mereka telah belajar banyak hal. Saat dimeja makan pun kita mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekelurga kebagian semua, puding ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila puding sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan. Kita dapat juga memberikan konsep matematika seperti pemahaman kuantitas, seperti berapa jumlah ikan hias di akuarium. Ketika bersantai di depan rumah, anak diajak menghitung berapa banyak motor yang lewat dalam 10 menit. Kenalkan juga konsep perbandingan seperti lebih besar, lebih kecil dan sebagainya, misalnya dengan menanyakan pada anak roti bolu dengan roti donat mana yang ukurannya lebih besar. Saat kita mengenalkan dan menanyakan pada anak bahwa mobil bergerak lebih cepat daripada motor, pohon kelapa lebih tinggi dari pohon jambu, atau tas kakak lebih berat daripada tas adik, sebenarnya hal ini sudah termasuk mengajarkan anak pada konsep kecepatan, panjang dan berat, sehingga fungsi kecerdasan matematikanya menjadi aktif. Untuk kegiatan di luar rumah, ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya. Kita juga bisa memberikan game-game dalam komputer yang edukatif yang mampu merangsang kecerdasan anak. Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung dan juga bermanfaat melatih kemampuan manipulasi motorik halus terutama melatih kekuatan jari tangan yang di kemudian hari bermanfaat untuk persiapan menulis. Selama bermain anak dituntut untuk fokus mengikuti alur permainanyang pada gilirannya akan melatih konsentrasi dan ketekunan anak yang dibutuhkan saat anak mengikuti pelajaran disekolah. Mengapa stimulasi untuk kecerdasan anak banyak melalui permainan-permainan dan kegiatan bermain yang menyenangkan? Karena dengan bermain akan membuat anak dapat mengekspresikan gagasan dan perasaan serta membuat anak menjadi lebih kreatif. Dengan bermain juga akan melatih kognisi atau kemampuan belajar anak berdasarkan apa yang dialami dan diamati dari sekelilingnya. Saat memainkan permainan yang menantang, anak memiliki kesempatan dalam memecahkan masalah (problem solving). Misalnya menyusun lego atau bermain pasel. Anak dihadapkan pada masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas. Dan ini juga akan melatih ketika anak kelak di sekolah mendapat pelajaran-pelajaran matematika yang berdasarkan pemecahan masalah (problem solving). Bagi usia prasekolah, ketika orangtua sudah mulai merangsang kecerdasan logis matematis dirumah, maka akan lebih mudah bag
Selasa, 23 Agustus 2011
A. Pengantar
Bismillahhirrahmaanirrahim
Segala puji bagi Allah swt yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada alam semesta beserta isinya, khususnya seluruh umat manusia di dunia, sehingga kita masih dapat melaksanakan segala aktifitas. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada sang pencerah dunia, Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat dan para penyampai kalam illahi yang berjuang menegakkan syari’at agama.
MTs Miftahul Huda Panunggalan bagi setiap alumninya merupakan sebuah tempat yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Setiap alumni akan selalu menceritakan pengalaman yang berdeda manakala ia diberi pertanyaan bagaimana pengalamannya selama belajar di MTs Miftahul Huda Panunggalan. Rupanya waktu belajar selama 3 tahun di MTs Miftahul Huda Panunggalan memberikan kesan yang mendalam bagi setiap alumninya.
Nuansa kerinduan itu senantiasa subur di setiap hati para alumni MTs Miftahul Huda Panunggalan, nuansa kerinduan untuk mengenang masa-masa belajar sebagai siswa MTs maupun kerinduan untuk sekedar bersua dengan bapak ibu guru yang telah banyak memberikan jasa kepadanya. Selain itu kerinduan kepada teman-teman yang telah mengisi lembaran kenangan dalam kehidupannya senantisa mengobarkan semangat para alumni untuk kembali bertemu.
Hari-hari setelah Idul fitri merupakan momen yang tepat untuk mengadakan reuni. pada saat itu, banyak alumni yang pulang ke kampung halaman. Kesempatan tersebut biasanya digunakan untuk bersilaturahmi kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya. Berangkat dari hal tersebut, maka para alumni MTs Miftahul Huda Panunggalan dalam rangka menjalin silatur rahim akan menyelenggarakan ”TEMU KANGEN ALUMNI ANGKATAN 2003”, semoga dengan ini kami dapat lebih mengenal lagi satu sama lain, dan menjadi keluarga besar MTs Miftahul Huda Panunggalan..
B. Nama Kegiatan
Kegiatan ini bernama “Temu Kangen Alumni Angkatan 2003/2004”.
C. Tujuan Kegiatan
Bernostalgia dan menyambung kembali tali silaturahmi yang beberapa tahun lalu pernah terjalin.
Membuka ruang untuk saling berbagi, bekerjasama, dan membantu satu sama lain dalam berbagai hal.
meningkatkan semangat persaudaraan antar alumni MTs Miftahul Huda Panunggalan
meningkatkan kepedulian para alumni terhadap kemajuan pendidikan MTs Miftahul Huda Panunggalan
Menggalang potensi untuk turut serta memajukan almamater
D. Tema Kegiatan
Tema dari kegiatan ini adalah ”Melalui Reuni ini, kita tingkatkan semangat persaudaraan alumni MTs Miftahul Huda Panunggalan”.
E. Waktu dan Tempat
Temu Kangen ini, insyaAllah akan dilaksanakan pada :
Hari/ tanggal : Ahad, 4 September
Waktu : Pukul 08.00 s.d. selesai
Tempat : Gedung MTs Miftahul Huda Panunggalan
F. Rangkaian Kegiatan
08.00 – 09.00 Pembukaan
09.00 – 09.30 Pembacaan Aya- Ayat Suci Al- Qur’an
09.30 – 10.30 Sambutan- sambutan
10.30 – 11.30 Ramah- tamah
11.30 – 01.30 Ceramah dan Do’a
01.30 – Selesai Penutup
G. Peserta
• Kepala Sekolah dan Guru‐guru kita semasa kita bersekolah di MTs Miftahul Huda Panunggalan
• Para alumnus MTs Mifthul Huda Panunggalan Angkatan 2003/2004
• Para dewan Guru Sekolah sekarang.
H. Susunan Kepanitiaan
Terlampir
I. Anggaran dana
Terlampir
J. Penutup
Demikian proposal ini kami susun, hal-hal yang belum tercantum di dalamnya akan disempurnakan kemudian.
Panunggalan, 13 Juni 2011
Panitia Pelaksana
Ibnu Hakim Alek Budi Santoso
Ketua Sekretaris
Mengetahui,
Kepala Sekolah
MTs. Miftahul Huda Panunggalan
Munfirudzunubi
NIP.
Lampiran I : Susunan Kepanitiaan
SUSUNAN KEPANITIAAN TEMU KANGEN ALUMNI
ANKATAN 2003/2004
Penanggung Jawab : Kepala Sekolah MTs Miftahul Huda Panunggalan
Ketua : Ibnu Hakim
Sekretaris Umum : Alek Budi Santoso
Sekretaris I : Nafisatun Nadhiroh
Bendahara Umum : Siti Maemunah
Bendahara I : Siti Badriyah
Sie Acara : M. Nurrohmat Ainun Najib
Nur Hidayatika
Sie. Humas : Rohmat hasan
Tri Widodo
Sie Perlengkapan : Agus Ariyanto
Agus Wiyono
Sie. Dekdok : Ari Saputro
Imam Siroj
Sie. Publikasi : Ahmad Maftuh Ihsan
Ahmad Busro
Sie. Konsumsi : Diana
Daimatus Sa’adah
Amin Zaenudin
ANGGARAN DANA KEGIATAN
TEMU KANGEN ALUMNI ANGKATAN 2003/2004
A. PEMASUKAN
1. Iura Alumni @x Rp. 20.000,00 : Rp 2.000.000,00
2. Sponsorship : -
B. PENGELUARAN
1. Administrasi : Rp
2. Publikasi-Dekorasi : Rp
3. Konsumsi : Rp
4. Sarasehan : Rp
Total : Rp
C. Defisit : Rp
Lampiran III : Rincian Pengeluaran Dana
NO BAGIAN NAMA BARANG VOL SATUAN
(Rupiah) TOTAL
(Rupiah)
A Panitia Harian
1 Administrasi Penggandaan Proposal 5 eks Rp 5.000,00 Rp 25.000,00
Tinta Printer 1 paket Rp 40.000,00 Rp 40.000,00
Kertas HVS 1 rim
Penggandaan Surat - Rp 20.000,00 Rp 20.000,00
Co-card Panitia 30 buah Rp 2.000,00 Rp 60.000,00
Amplop 1 kotak Rp 20.000,00 Rp 20.000,00
Sertifikat 250 lbr Rp 1.500,00 Rp 60.000,00
Perlengkapan - - Rp 100.000,00
Sub Total Rp
2 Publikasi, Dekorasi, dan Dokumentasi Background Utama 2 x 3 m Rp 30.000,00 Rp 180.000,00
Background Jalan 1 x 5 m Rp 30.000,00 Rp 150.000,00
Background Acara 1 x 3 m Rp 30.000,00 Rp 90.000,00
Penggandaan Pamflet 100 lbr Rp 500,00 Rp 500.000,00
Sub Total Rp 920.000,00
B Mujahadah Kubro
1 Konsumsi Snack 200 kotak Rp 5.000,00 Rp 1.000.000,00
Air Mineral 300 ml 4 doz Rp 15.000,00 Rp 60.000,00
3 Perlengkapan - - - Rp 50.000,00
Sub Total Rp 1.110.000,00
C Sarasehan
1 Konsumsi Snack 200 kotak Rp 5.000,00 Rp 1.000.000,00
Air Mineral 300 ml 4 doz Rp 15.000,00 Rp 60.000,00
2 Perlengkapan - - - Rp 50.000,00
3 Honorarium Narasumber 2 orang Rp 800.000,00 Rp 1.600.000,00
Sub Total Rp 2.710.000,00
Bismillahhirrahmaanirrahim
Segala puji bagi Allah swt yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada alam semesta beserta isinya, khususnya seluruh umat manusia di dunia, sehingga kita masih dapat melaksanakan segala aktifitas. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada sang pencerah dunia, Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat dan para penyampai kalam illahi yang berjuang menegakkan syari’at agama.
MTs Miftahul Huda Panunggalan bagi setiap alumninya merupakan sebuah tempat yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Setiap alumni akan selalu menceritakan pengalaman yang berdeda manakala ia diberi pertanyaan bagaimana pengalamannya selama belajar di MTs Miftahul Huda Panunggalan. Rupanya waktu belajar selama 3 tahun di MTs Miftahul Huda Panunggalan memberikan kesan yang mendalam bagi setiap alumninya.
Nuansa kerinduan itu senantiasa subur di setiap hati para alumni MTs Miftahul Huda Panunggalan, nuansa kerinduan untuk mengenang masa-masa belajar sebagai siswa MTs maupun kerinduan untuk sekedar bersua dengan bapak ibu guru yang telah banyak memberikan jasa kepadanya. Selain itu kerinduan kepada teman-teman yang telah mengisi lembaran kenangan dalam kehidupannya senantisa mengobarkan semangat para alumni untuk kembali bertemu.
Hari-hari setelah Idul fitri merupakan momen yang tepat untuk mengadakan reuni. pada saat itu, banyak alumni yang pulang ke kampung halaman. Kesempatan tersebut biasanya digunakan untuk bersilaturahmi kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya. Berangkat dari hal tersebut, maka para alumni MTs Miftahul Huda Panunggalan dalam rangka menjalin silatur rahim akan menyelenggarakan ”TEMU KANGEN ALUMNI ANGKATAN 2003”, semoga dengan ini kami dapat lebih mengenal lagi satu sama lain, dan menjadi keluarga besar MTs Miftahul Huda Panunggalan..
B. Nama Kegiatan
Kegiatan ini bernama “Temu Kangen Alumni Angkatan 2003/2004”.
C. Tujuan Kegiatan
Bernostalgia dan menyambung kembali tali silaturahmi yang beberapa tahun lalu pernah terjalin.
Membuka ruang untuk saling berbagi, bekerjasama, dan membantu satu sama lain dalam berbagai hal.
meningkatkan semangat persaudaraan antar alumni MTs Miftahul Huda Panunggalan
meningkatkan kepedulian para alumni terhadap kemajuan pendidikan MTs Miftahul Huda Panunggalan
Menggalang potensi untuk turut serta memajukan almamater
D. Tema Kegiatan
Tema dari kegiatan ini adalah ”Melalui Reuni ini, kita tingkatkan semangat persaudaraan alumni MTs Miftahul Huda Panunggalan”.
E. Waktu dan Tempat
Temu Kangen ini, insyaAllah akan dilaksanakan pada :
Hari/ tanggal : Ahad, 4 September
Waktu : Pukul 08.00 s.d. selesai
Tempat : Gedung MTs Miftahul Huda Panunggalan
F. Rangkaian Kegiatan
08.00 – 09.00 Pembukaan
09.00 – 09.30 Pembacaan Aya- Ayat Suci Al- Qur’an
09.30 – 10.30 Sambutan- sambutan
10.30 – 11.30 Ramah- tamah
11.30 – 01.30 Ceramah dan Do’a
01.30 – Selesai Penutup
G. Peserta
• Kepala Sekolah dan Guru‐guru kita semasa kita bersekolah di MTs Miftahul Huda Panunggalan
• Para alumnus MTs Mifthul Huda Panunggalan Angkatan 2003/2004
• Para dewan Guru Sekolah sekarang.
H. Susunan Kepanitiaan
Terlampir
I. Anggaran dana
Terlampir
J. Penutup
Demikian proposal ini kami susun, hal-hal yang belum tercantum di dalamnya akan disempurnakan kemudian.
Panunggalan, 13 Juni 2011
Panitia Pelaksana
Ibnu Hakim Alek Budi Santoso
Ketua Sekretaris
Mengetahui,
Kepala Sekolah
MTs. Miftahul Huda Panunggalan
Munfirudzunubi
NIP.
Lampiran I : Susunan Kepanitiaan
SUSUNAN KEPANITIAAN TEMU KANGEN ALUMNI
ANKATAN 2003/2004
Penanggung Jawab : Kepala Sekolah MTs Miftahul Huda Panunggalan
Ketua : Ibnu Hakim
Sekretaris Umum : Alek Budi Santoso
Sekretaris I : Nafisatun Nadhiroh
Bendahara Umum : Siti Maemunah
Bendahara I : Siti Badriyah
Sie Acara : M. Nurrohmat Ainun Najib
Nur Hidayatika
Sie. Humas : Rohmat hasan
Tri Widodo
Sie Perlengkapan : Agus Ariyanto
Agus Wiyono
Sie. Dekdok : Ari Saputro
Imam Siroj
Sie. Publikasi : Ahmad Maftuh Ihsan
Ahmad Busro
Sie. Konsumsi : Diana
Daimatus Sa’adah
Amin Zaenudin
ANGGARAN DANA KEGIATAN
TEMU KANGEN ALUMNI ANGKATAN 2003/2004
A. PEMASUKAN
1. Iura Alumni @x Rp. 20.000,00 : Rp 2.000.000,00
2. Sponsorship : -
B. PENGELUARAN
1. Administrasi : Rp
2. Publikasi-Dekorasi : Rp
3. Konsumsi : Rp
4. Sarasehan : Rp
Total : Rp
C. Defisit : Rp
Lampiran III : Rincian Pengeluaran Dana
NO BAGIAN NAMA BARANG VOL SATUAN
(Rupiah) TOTAL
(Rupiah)
A Panitia Harian
1 Administrasi Penggandaan Proposal 5 eks Rp 5.000,00 Rp 25.000,00
Tinta Printer 1 paket Rp 40.000,00 Rp 40.000,00
Kertas HVS 1 rim
Penggandaan Surat - Rp 20.000,00 Rp 20.000,00
Co-card Panitia 30 buah Rp 2.000,00 Rp 60.000,00
Amplop 1 kotak Rp 20.000,00 Rp 20.000,00
Sertifikat 250 lbr Rp 1.500,00 Rp 60.000,00
Perlengkapan - - Rp 100.000,00
Sub Total Rp
2 Publikasi, Dekorasi, dan Dokumentasi Background Utama 2 x 3 m Rp 30.000,00 Rp 180.000,00
Background Jalan 1 x 5 m Rp 30.000,00 Rp 150.000,00
Background Acara 1 x 3 m Rp 30.000,00 Rp 90.000,00
Penggandaan Pamflet 100 lbr Rp 500,00 Rp 500.000,00
Sub Total Rp 920.000,00
B Mujahadah Kubro
1 Konsumsi Snack 200 kotak Rp 5.000,00 Rp 1.000.000,00
Air Mineral 300 ml 4 doz Rp 15.000,00 Rp 60.000,00
3 Perlengkapan - - - Rp 50.000,00
Sub Total Rp 1.110.000,00
C Sarasehan
1 Konsumsi Snack 200 kotak Rp 5.000,00 Rp 1.000.000,00
Air Mineral 300 ml 4 doz Rp 15.000,00 Rp 60.000,00
2 Perlengkapan - - - Rp 50.000,00
3 Honorarium Narasumber 2 orang Rp 800.000,00 Rp 1.600.000,00
Sub Total Rp 2.710.000,00
PANITIA PELAKSANA
TEMU KANGEN ALUMNI ANGKATAN 2003/2004
MTs. Miftahul Huda Panunggalan
Sekretariat: Jl. Stasiun No. 275 Jerakah Tugu Semarang Telp: 085642722240
Website: ppdnsmg.wordpress.com, E-mail : ppdnsmg@yahoo.com
Hal : Undangan
KepadaYth Saudara/i
………………………
di-
Tempat
Assalamu’alaikumWr. Wb.
Salam hormat kami sampaikan, semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala langkah dan aktivitas kita semua.Amin.
Dalam rangka menyambut kegiatan “Temu Kangen Alumni Angkatan 2003/2004”, kami mengundang para Alumni untuk menghadiri kegiatan tersebut yang diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal : Ahad, 4 September 2011
Waktu : 08.00 WIB- selesai
Acara : Ramah Tamah Alumni
Tempat : MTs Miftahul Huda Panunggalan
Untuk menyukseskan acara tersebut, maka kami mengharap para Alumni bersedia menyumbang dana operasional sebesar Rp. 20.000,00
Demikian surat ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasinya kami haturkan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Panunggalan, 22 Agustus 2011
Panitia Pelaksana
Ibnu Hakim Alek Budi Santoso
Ketua Sekretaris
Mengetahui,
Kepala sekolah
MTs Miftahul Huda Panunggalan
Munfirudzunubi
NIP
PANITIA PELAKSANA
TEMU KANGEN ALUMNI ANGKATAN 2003/2004
MTs. Miftahul Huda Panunggalan
Sekretariat: Jl. Stasiun No. 275 Jerakah Tugu Semarang Telp: 085642722240
Website: ppdnsmg.wordpress.com, E-mail : ppdnsmg@yahoo.com
Hal : Undangan
Kepada Yth Bpk/Ibu
……………………..
di-
Tempat
Assalamu’alaikumWr. Wb.
Salam hormat kami sampaikan, semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala langkah dan aktivitas kita semua.Amin.
Dalam rangka menyambut kegiatan “Temu Kangen Alumni Angkatan 2003/2004”, kami mengundang bapak/ Ibu guru untuk menghadiri kegiatan tersebut yang diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal : Ahad, 4 September 2011
Waktu : 08.00 WIB- selesai
Acara : Ramah Tamah Alumni
Tempat : MTs Miftahul Huda Panunggalan
Demikian surat ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasinya kami haturkan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Panunggalan, 22 Agustus 2011
Panitia Pelaksana
Ibnu Hakim Alek Budi Santoso
Ketua Sekretaris
Mengetahui,
Kepala sekolah
MTs Miftahul Huda Panunggalan
Munfirudzunubi
NIP
TEMU KANGEN ALUMNI ANGKATAN 2003/2004
MTs. Miftahul Huda Panunggalan
Sekretariat: Jl. Stasiun No. 275 Jerakah Tugu Semarang Telp: 085642722240
Website: ppdnsmg.wordpress.com, E-mail : ppdnsmg@yahoo.com
Hal : Undangan
KepadaYth Saudara/i
………………………
di-
Tempat
Assalamu’alaikumWr. Wb.
Salam hormat kami sampaikan, semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala langkah dan aktivitas kita semua.Amin.
Dalam rangka menyambut kegiatan “Temu Kangen Alumni Angkatan 2003/2004”, kami mengundang para Alumni untuk menghadiri kegiatan tersebut yang diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal : Ahad, 4 September 2011
Waktu : 08.00 WIB- selesai
Acara : Ramah Tamah Alumni
Tempat : MTs Miftahul Huda Panunggalan
Untuk menyukseskan acara tersebut, maka kami mengharap para Alumni bersedia menyumbang dana operasional sebesar Rp. 20.000,00
Demikian surat ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasinya kami haturkan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Panunggalan, 22 Agustus 2011
Panitia Pelaksana
Ibnu Hakim Alek Budi Santoso
Ketua Sekretaris
Mengetahui,
Kepala sekolah
MTs Miftahul Huda Panunggalan
Munfirudzunubi
NIP
PANITIA PELAKSANA
TEMU KANGEN ALUMNI ANGKATAN 2003/2004
MTs. Miftahul Huda Panunggalan
Sekretariat: Jl. Stasiun No. 275 Jerakah Tugu Semarang Telp: 085642722240
Website: ppdnsmg.wordpress.com, E-mail : ppdnsmg@yahoo.com
Hal : Undangan
Kepada Yth Bpk/Ibu
……………………..
di-
Tempat
Assalamu’alaikumWr. Wb.
Salam hormat kami sampaikan, semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala langkah dan aktivitas kita semua.Amin.
Dalam rangka menyambut kegiatan “Temu Kangen Alumni Angkatan 2003/2004”, kami mengundang bapak/ Ibu guru untuk menghadiri kegiatan tersebut yang diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal : Ahad, 4 September 2011
Waktu : 08.00 WIB- selesai
Acara : Ramah Tamah Alumni
Tempat : MTs Miftahul Huda Panunggalan
Demikian surat ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasinya kami haturkan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Panunggalan, 22 Agustus 2011
Panitia Pelaksana
Ibnu Hakim Alek Budi Santoso
Ketua Sekretaris
Mengetahui,
Kepala sekolah
MTs Miftahul Huda Panunggalan
Munfirudzunubi
NIP
Senin, 02 Mei 2011
PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA ORLA
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Wahyudi M.Pd
Disusun Oleh:
1. Alek Budi Santoso (093111019)
2.
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
I. PENDAHULUAN
Orde lama (ORLA) itu memegang pemerintahan di indonesia dimulai setelah kemerdekaan yaitu tahun 1945 sampai tahun 1966. Di mana pada masa-masa ini indonesia sedang mengalami kegembiraan juga kesusahan karena dituntut banyak hal dalam masalah kenegaraan. Juga dituntut harus mempersiapkan sistem pemerintahan untuk masa-masa mendatang.
Seperti halnya negara-negara dunia ketiga lainnya yang baru muncul setelah berakhirnya perang dunia ke-dua, segera setelah memperoleh kemerdekaanya Indonesia pun langsung dihadapkan pada kebutuhan untuk menciptakan dan menerapkan suatu sistem politik modern dengan didukung birokrasi pemerintahan sebagai kekuatan utama. Tetapi dalam tahap-tahap awal yang memakan waktu hampir dasawarsa, seluruh perhatian masih dipusatkan pada masalah bagaimana basis kebangsaan yang kokoh sebagai Nation State baru di tengah-tengah realitas keanekaragaman loyalitas primodial yang mempunyai potensi konflik dalam masyarakatnya. Dengan kata lain dalam tahap-tahap awal ini Indonesia masih dihadapkan pada masalah pembinaan bangsa (Nation Building)
Di dalam pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa tujuan kita membentuk negara kesatuan Republik Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang survive didalm menghadapi berbagai kesulitan. Kenyataanya adalah dewasa ini bangsa indonesia masih berada di tengah-tengah krisis yang menyeluruh, dan tidak dapat disangkal juga didalam bidang pendidikan. Dimana bangsa Indonesia harus mampu menciptakan pendidikan yang dibutuhkan masyarakat Indonesia pada masa itu dan masa yang akan datang.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Usaha-Usaha Pendidikan Islam Pada Masa ORLA
B. Kebijakan pemerintah republik Indonesia dalam Pendidikan Islam
C. Keadaan Madrasah-Madrasah pada Masa ORLA
III. PEMBAHASAN
A. Usaha-Usaha Pendidikan Islam Pada Masa ORLA
Dimasa pemerintahan Hindia-Belanda, pendidikan agama islam tidak masuk kurikulum, meskipun dapat dikembangkan diluar jam sekolah. Dalam Indische start sregeling pasal 179 (2) dinyatakan ”pengajaran umum adalah netral, artinya pengajaran itu diberikan dengan menghormati keyakinan agama masing-masing. Pengajaran agama hanya boleh berlaku diluar jawa sekolah.
Dan ketika kementerian PP dan K dipegang oleh Mr.Suwandi (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947) dibentuklah panitia penyelidik pengajaran yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantoro. Beberapa rekomendasi yanng menguatkan posisi pendidikan agama dibuat oleh panitia ini, sebagai berikut:
1. Pelajaran agama dalam semua sekolah diberikan pada jam pelajaran sekolah.
2. Para guru pendidikan agama dibayar pemerintah.
3. Di sekolah rakyat, pendidikan ini diberikan mulai kelas IV.
4. Para guru diangkat oleh Departemen Agama.
5. Pendidikan ini dilaksanakan seminggu sekali pada jam tertentu.
6. Para guru agama diharuskan juga cakap dalam pendidikan umum.
7. Pemerintah menyediakan buku untuk pendidikan agama.
8. Diadakan latihan bagi para guru agama.
Pada masa ini pemerintah mulai memperhatikan pendidikan agama dengan menetapkan pendidikan agama masuk dalam kurikulum pengajaran.
Setelah terjadi penyerahan kedaulatan dari pemerintah belanda kepada pemerintah indonesia dan berdiri RIS, maka dalam kabinet Hatta (1950), Wahid Hasyim dipilih menjadi Menteri Agama. Jabatan itu terus menerus dipegangnya sampai 3 kali kabinet, yaitu dalam kabinet Natsir dan kabinet Sukiman, sehingga ia memegang kementerian agama selama 2 tahun. Dan banyak kemajuan yang dihasilkan selama kepemimpinannya, seperti mengadakan konferensi-konferensi dinas, pertemuan-pertemuan ulama’, membentuk jawatan-jawatan dan bagian-bagian dalam kementerian agama.
Adapun usaha dan jasanya dalam pendidikan dan pengajaran islam antara lain
1. Mengeluarkan peraturan tentang susunan dan tugas kewajiban kantor pusat kementerian agama dan lapangan pekerjaan, susunan serta tugas kewajiban. Jawatan urusan agama, jawatan pendidikan agama, jawatan penerangan agama.
2. Mengeluarkan peratuarn bersama menteri PP dan K dan menteri tentang pendidikan agama di sekolah-sekolah negeri dan partikelir.
3. Menyusun Top formasi pegawai kantor pendidikan agama di provinsi dan kabupaten di seluruh indonesia.
4. Mendirikan kantor-kantor pendidikan agama di provinsi-provinsi dan kabupaten-kabupaten di seluruh indonesia.
5. Mendirikan Sekolah Guru Hukum Agama (SGHA) negeri di Kotaraja Aceh (13 Pebruari 1951).
6. Mendirikan SGHA negeri di Bukittinggi (Sumatera Tengah).
7. Mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri di Tanjung Pinang (Sumatera Tengah) 31 Mei 1951.
8. Mengusahakan keluarnya keputusan menteri P dan K dengan persetujuan menteri agama tentang penghargaan ijazah-ijazah madrasah.
9. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Kutaraja (14 Agustus 1951)
10. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Padang (16 Agustus 1951)
11. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Banjarmasin (16 Agustus 1951)
12. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Jakarata (16 Agustus 1951)
13. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Tanjung Karang, Sumatera Selatan (16 Agustus 1951)
14. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Bandung (2 Agustus 1951)
15. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Pamekasan (8 Agustus 1951)
16. Mendirikan SGHA Negeri di Bandung (2 Agustus 1951)
17. Menetapkan rancana pendidikan agama islam di sekolah-sekolah rakyat dari kelas IV-VI (6 Mei 1951)
18. Menetapkan rencana pendidikan agama islam di sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama (31 Agustus 1951)
19. Menetapkan rencana pelajaran agama islam di sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama (31 Agustus 1951)
20. Mengeluarkan perasturan bersama menteri PP dan K dan menteri agama tentang peraturan PTAIN di Yogyakarta (21 Oktober 1951)
Pada masa itulah lahirnya persatuan rencana pelajaran agama di sekolah-sekolah negeri mulai dari sekolah-sekolah rakyat sampai sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama.
B. Kebijakan Pemeritah Republik Indonesia dalam Bidang Pendidikan Islam.
Pada tanggal 17-8-1945 Indonesia merdeka. Tapi musuh-musuh Indonesia tidak diam, bahkan berusaha untuk menjajah kembali. Pada bulan Oktober 1945 para ulama di Jawa memproklamasikan perang jihad fisabilillah terhadap Belanda/Sekutu. Hal ini berarti memberikan fatwa kepastian hukum terhadap perjuangan umat Islam. Pahlawan perang berarti pahlawan jihad yang terkategori sebagai syuhada perang. Isi fatwa tersebut adalah sebagai berikut :
a. Kemerdekaan Indonesia ( 17-8-1945 ) wajib dipertahankan.
b. Pemerintah RI adalah satu-satunya pemerintah yang sah yang wajib dibela dan diselamatkan.
c. Musuh-musuh RI ( Belanda/Sekutu ), pasti akan menjajah kembali bangsa Indonesia. Karena itu kita wajib mengangkat senjata menghadapi mereka.
d. Kewajiban-kewajiban tersebut di atas adalah jihad fisabilillah.
Ditinjau dari segi pendidikan rakyat, maka fatwa ulama tersebut besar sekali artinya. Fatwa tersebut memberikan faedah sebagai berikut :
1) Para ulama dan santri-santri dapat mempraktekkan ajaran jihad fisabilillah yang sudah dikaji bertahun-bertahun dalam pengajian kitab suci fiqih di pondok atau madrasah.
2) Pertanggumgjawaban mempertahankan kemerdekaan tanah air itu menjadi sempurna terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Di tengah-tengah berkobarnya revolusi fisik, pemerintah RI tetap membina pendidikan agama pada khususnya. Pembinaan pendidikan agama itu secara formal institusional dipercayakan kepada Departemen Agama dan Departemen P & K ( Dep Dik Bud ). Oleh karena itu maka dikeluarkanlah peraturan-peraturan bersama antara kedua departemen tersebut untuk mengelola pendidikan agama di sekolah-sekolah umum ( negeri dan swasta ). Adapun pembinaan pendidikan agama di sekolah agama ditangani oleh Departemen Agama sendiri.
Pendidikan Agama islam untuk sekolah umum mulai diatur secara resmi oleh pemerintah pada bulan desember 1946. Sebelum itu pendidikan agama sebagai pengganti pendidikan budi pekerti yang sudah ada sejak zaman Jepang, berjalan sendiri-sendiri di masing-masing daerah.
Pada bulan Desember 1946 dikeluarkan peraturan bersama dua Menteri yaitu Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan pengajaran yang menetapkan bahwa pendidikan agama diberikan mulai kelas IV SR (Sekolah rakyat = Sekolah Dasar) sampai kelas VI. Pada masa itu keadaan keamanan di Indonesia belum mantap sehingga SKB Dua Menteri di atas belum dapat berjalan dengan semestinya. Daerah-daerah di luar Jawa masih banyak yang memberikan pendidikan agama mulai kelas I SR. Pemerintah membentuk Majelis Pertimbangan Pengajaran Agama Islam pada tahun1947, yang dipimpin oleh ki Hajar Dewantoro dari Departemen P&K dan Prof. Dr. Abdullah Sigit dari Departemen Agama. Tugasnya ikut mengatur pelaksanaan dan Menteri pengajaran agama yang diberikan disekolah umum.
Pada tahun 1950 dimana kedaulatan indonesia telah pulih untuk seluruh indonesia, maka rencana pendidikan agama untuk seluruh wilayah indonesia makin disempurnakan dengan dibentuknya panitia bersama yang dipimpin oleh prof. Mahmud Yunus dari Departemen Agama dan Mr. Hadi dari Departemen P&K. Hasil dari panitia itu adalah SKB yang dikeluarkan pada bulan Januari 1951.Iisinya ialah :
a. Pendidikan agama diberikan mulai kelas IV Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar).
b. Di daerah-daerah yang masyarakat agamanya kuat (misalnya di sumatera, kalimantan, dan lain-lain), maka pendidikan agama diberikan mulai kelas I SR dengan catatan bahwa mutu pengetahuan umumnya tidak boleh berkurang dibandingkan dengan sekolah lain yang pendidikan agamanya diberikan mulai kelas IV.
c. Di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Tingkat Atas (umum dan kejuruan) diberikan pendidikan agam sebanyak 2 jam seminggu.
d. Pendidikan agama diberikan kepada murid-murid sedikitnya 10 orang dalam satu kelas dan mendapat izin dari orang tua/walinya.
e. Pengangkatan guru agam, biaya pendidikan agama dan materi pendidikan agama ditanggung oleh Departemen Agama.
Untuk menyempurnakan kurikulumnya maka dibentuk panitia yang dipimpin oleh KH.Imam Zarkasyi dari pondok Gontor Ponorogo. Kurikulum tersebut disahkan oleh Menteri Agama pada tahun 1952. Dalam ketatanegaraan kita dinyatakan bahwa Negara berdasarkan UUD 1945.Kedaulatan ditangan rakyat yaitu ditangan MPR. Sebelum dibentuknya MPR menurut UUD 1945, di Indonesia pernah dibentuk MPRS (sementara) pada tahun 1959.
Dalam sidang pleno MPRS, pada bulan Desember 1960 diputuskan sebagai berikut: “Melaksanakan Manipol Usdek dibidang mental/kebudayaan/agama dengan syarat spiritual dan material agar setiap warga negara dapat mengembangkan kepribadiannya dan kebangsaan Indonesia serta menolak pengaruh-pengaruh buruk kebudayaan asing” (Bab II pasal II:I). Dalam ayat 3 dari pasal tersebut dinyatakan bahwa: “Pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah umum, mulai sekolah rendah (dasar) sampai universitas”, dengan pengertian bahwa murid berhak ikut serta dalam pendidikan agama jika wali murid/murid dewasa menyatakan keberatannya.
C. Keadaan Madrasah-Madrasah pada Masa ORLA (1945-1959)
Di terangkan, bahwa madrasah-madrasah di Minangkabau sebelum Indonesia merdeka amat banyak bilangannya, dari madrasah-madrasah ibtidaiyah, tsanawiya sampai ke sekolah Guru Agama Atas. Sedangkan sekolah-sekolah guru agama saja lebih dari 10 buah banyaknya, seperti normal islam, Islamic College,Training College, Kuliah Mubalighin/ mubalighot, Mu’allimat dan lain-lain.
Tatkala kota Padang diduduki tentara sekutu (Belanda), terjadilah pertempuran tiap-tiap malam antara tentara belanda dengan pemuda-pemuda Indonesia. Oleh karena pertempuran bertambah hebat juga, maka pada pertengahan tahun 1946 Normal Islam dan Islamic College di Padang terpaksa di tutup, karena guru-guru dan pelajar-pelajarnya terpaksa mengungsi di Bukittinggi. Dengan sepakat beberapa guru-guru agama, maka didirikan di Bukittinggi. S.M.I (Sekolah Menengah Islam ) sebagai ganti normal islam dan Islamic College yang telah ditutup di Padang yaitu pada bulan September 1946. Alat-alat perkakas normal islam di Padang seperti kursi-kursi, meja bangku, alat-alat praktikum kimia dan ilmu alam, peta-peta dan lain-lain. Semuanya diangkut ke Bukittinggi untuk dipakai di S.M.I.
Mula-mula S.M.I. itu dipimpin oleh Mahmud Yunus. Tatkala Mahmud Yunus pindah ke Pematang Siantar ( Desember 1946 ), maka pimpinan S.M.I. dipegang oleh H. Bustami A. Gani. Setelah S.M.I. bediri, lalu dijadikan sekolah negeri di bawah Jawatan Agama Sumatera Barat dengan Beslit Residen Sumatera Barat. Akhirnya S.M.I. dijadikan S.G.H.A. negeri dengan beslit Menteri Agama ( Januari 1951).
Waktu ibu kota propinsi Sumatera di Pematang Siantar ( tahun 1947 ), maka Mahmud Yunus sebagai kepala bagian Islam pada Jawatan Agama propinsi Sumatera, telah merencanakan rencana baru untuk persatuan madrasah-madrasah seluruh Sumatera. Selain dari pada itu madrasah-madrasah vak, seperti Mu’allimin, muballighin dan sebagainya.Yang mula-mula melaksanakan rencana baru, ialah M. Thaha kepala Jawatan Agama keresidenan Lampung, yaitu dengan mendirikan S.M.P.I. tiga buah di daerah Lampung serta beberapa buah S.R.I. ( tahun 1948 ). Ketika ibu kota propinsi Sumatera pindah ke Bukittinggi ( akhir tahun 1947 ) karena Pematang Siantar diduduki tentara Belanda, maka pendidikn agama dilancarkan dari Bukittinggi ke seluruh Sumatera yang dikuasai oleh R.I. Untuk melancarkan itu diangkat Mahmud Yunus sebagai inspektur Agama pada Jawatan P.P.K. propinsi Sumatera, sambil merangkap kepala bagian Islam pada Jawatan Agama propinsi Sumatera ( awal tahun 1948 ). Pada tahun 1948 Mahmud Yunus mengeluarkan rencana pemgajaran Agama untuk S.M.P. seluruh Sumatera dengan persetujuan Kepala Jawatan P.P.K. propinsi Sumatera ( Hoetasoit ).
Dengan demikian dapatlah dilancarkn pelajaran Agama di S.R. dan S.M.P. menurut rencana pengajaran yang teraturdan serupa seluruh Sumatera. Pada tahun 1949 Mahmud Yunus menerbitkan buku: Pemimpin Pelajaran Agama untuk sekolah menengah, ( baru untuk kelas I ).
Pada masa P.D.R.I. ( Pemerintah Darurat Republik Indonesia ) tahun 1949 adalah Menteri Agama Mr. Tg. M. Hasan , merangkapMenteri P.P.K., sedangkan sekretaris Kementrian Agama adalah Mahmud Yunus sendiri. Maka pada masa itu Mahmud Yunus mengemukakan rencana baru madrasah-madarsah kepada Menteri Agama, supaya rencana itu diresmikan untuk madrasah-madarsah seluruh Sumatera. Maka Menteri Agama menyutujui usul itu, lalu diresmikan rencana madrasah-madrasah itu pada tahun 1946.
Setelah dilakukan penyerahan kedaulatan oleh Pemerintah Belanda kepada Pemerintah R.I. (Desember 1949 ), maka oleh Kepala Jawatan Agama Sumatera Barat Nasrudin Thaha ( tahun 1950 ) dianjurkan supaya S.M.P.I. didirikan pada tiap-tiap kabupaten diseluruh Minangkabau.
Dengan demikian berdirilah beberapa buah S.M.P.I. yang direncanakan akan dibelanjai oleh Jawatan Agama Sumatera Barat. Tetapi amat sayang, tatkala dilakukan perhubungan antara Jawatan Agama Propinsi Sumatera dengan Kementrian Agama Yogyakarta ( tahun 1950 ), maka Menteri Agama tidak dapat menyutujui S.M.P.I. itu dijadikan sekolah-sekolah negeri ( Kementrian Agama ). Meskipun Mahmud Yunus telah memperjuangkan demikian itu tatkala ia pindah ke Pusat Kementrian Agama Yogya ( 1 Mei 1950 ) tetapi tidak juga berhasil pengakuan itu.Dengan demikian guru-guru agama S.M.P.I. menjadi kecewa semuanya, padahal mereka mendirikan S.M.P.I. itu adalah atas anjuran kepala Jawatan Agama karesidenan Sumatera Barat berdasarkan penetapan Menteri Agama P.D.R.I. ( tahun 1949 ). Meskipun begitu guru-guru agma itu mengalah saja, karena harus tunduk kepada pemerintah Pusat.
IV. KESIMPULAN
1. Kebijakan pemerintah RI pada masa ORLA setelah indonesia merdeka dengan memebina pendidikan agama secara formal institusional yang dipercayakan kepada Departemen Agama dan Departemen P & K (Depdikbud)
2. Pendidikan islam yang dulunya hanya sebagai pengganti pendidikan budi pekerti telah diatur secara resmi oleh pemerintah dengan dikeluarkannya peraturan bersama dua menteri yaitu menteri Agama dan menteri pendidik dan pengajaran sebagai pendidik yang dikhususkan.
3. Pada tanggal 2 oktober 1946 – 27 Juni 1945 dibentuk panitia penyelidik pengajaran yang merekomendasikan penguatan posisi pendidik agama.Dimana pada saat itu kementerian PP&K dipegang oleh Mr.Suwandi. dan pada masa kabinet Moh.Hatta dan kementerian agama dipegang oleh Wahid Hasyim , pendidikan agama mengalami banyak kemajuan.
4. Madrasah-madrasah atau SMPI yang mana kurikulum pelajarannya banyak mengajarkan tentang keagamaan itu sulit sekali untuk dijadikan sekolah-sekolah negeri.
V. ANALISIS
Dengan paparan di atas, dapatlah diambil analisa bahwa pendidikan Islam pada masa Orde Lama terfokus kedalam dua hal: Perkembangan dan peningkatan mutu madrasah sehingga diharapkan mampu sejajar dengan sekolah umum dan memperluas jangkauan pengajaran agama, tidak terbatas pada madrasah, tetapi menjangkau sekolah umum bahkan perguruan tinggi umum. Kedua hal ini terkait erat dengan upaya pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Departemen Agama melakukan konvergensi dualisme pendidikan yang telah tumbuh sejak masa kolonial.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, dan kami sangat sadar sekali kalau adanya makalah ini banyak kesalahan dan kekuranganya. Kritik dan saran selalu kami nantikan dengan lapang dada. Terimakasih atas perhatiannya.
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Wahyudi M.Pd
Disusun Oleh:
1. Alek Budi Santoso (093111019)
2.
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
I. PENDAHULUAN
Orde lama (ORLA) itu memegang pemerintahan di indonesia dimulai setelah kemerdekaan yaitu tahun 1945 sampai tahun 1966. Di mana pada masa-masa ini indonesia sedang mengalami kegembiraan juga kesusahan karena dituntut banyak hal dalam masalah kenegaraan. Juga dituntut harus mempersiapkan sistem pemerintahan untuk masa-masa mendatang.
Seperti halnya negara-negara dunia ketiga lainnya yang baru muncul setelah berakhirnya perang dunia ke-dua, segera setelah memperoleh kemerdekaanya Indonesia pun langsung dihadapkan pada kebutuhan untuk menciptakan dan menerapkan suatu sistem politik modern dengan didukung birokrasi pemerintahan sebagai kekuatan utama. Tetapi dalam tahap-tahap awal yang memakan waktu hampir dasawarsa, seluruh perhatian masih dipusatkan pada masalah bagaimana basis kebangsaan yang kokoh sebagai Nation State baru di tengah-tengah realitas keanekaragaman loyalitas primodial yang mempunyai potensi konflik dalam masyarakatnya. Dengan kata lain dalam tahap-tahap awal ini Indonesia masih dihadapkan pada masalah pembinaan bangsa (Nation Building)
Di dalam pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa tujuan kita membentuk negara kesatuan Republik Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang survive didalm menghadapi berbagai kesulitan. Kenyataanya adalah dewasa ini bangsa indonesia masih berada di tengah-tengah krisis yang menyeluruh, dan tidak dapat disangkal juga didalam bidang pendidikan. Dimana bangsa Indonesia harus mampu menciptakan pendidikan yang dibutuhkan masyarakat Indonesia pada masa itu dan masa yang akan datang.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Usaha-Usaha Pendidikan Islam Pada Masa ORLA
B. Kebijakan pemerintah republik Indonesia dalam Pendidikan Islam
C. Keadaan Madrasah-Madrasah pada Masa ORLA
III. PEMBAHASAN
A. Usaha-Usaha Pendidikan Islam Pada Masa ORLA
Dimasa pemerintahan Hindia-Belanda, pendidikan agama islam tidak masuk kurikulum, meskipun dapat dikembangkan diluar jam sekolah. Dalam Indische start sregeling pasal 179 (2) dinyatakan ”pengajaran umum adalah netral, artinya pengajaran itu diberikan dengan menghormati keyakinan agama masing-masing. Pengajaran agama hanya boleh berlaku diluar jawa sekolah.
Dan ketika kementerian PP dan K dipegang oleh Mr.Suwandi (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947) dibentuklah panitia penyelidik pengajaran yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantoro. Beberapa rekomendasi yanng menguatkan posisi pendidikan agama dibuat oleh panitia ini, sebagai berikut:
1. Pelajaran agama dalam semua sekolah diberikan pada jam pelajaran sekolah.
2. Para guru pendidikan agama dibayar pemerintah.
3. Di sekolah rakyat, pendidikan ini diberikan mulai kelas IV.
4. Para guru diangkat oleh Departemen Agama.
5. Pendidikan ini dilaksanakan seminggu sekali pada jam tertentu.
6. Para guru agama diharuskan juga cakap dalam pendidikan umum.
7. Pemerintah menyediakan buku untuk pendidikan agama.
8. Diadakan latihan bagi para guru agama.
Pada masa ini pemerintah mulai memperhatikan pendidikan agama dengan menetapkan pendidikan agama masuk dalam kurikulum pengajaran.
Setelah terjadi penyerahan kedaulatan dari pemerintah belanda kepada pemerintah indonesia dan berdiri RIS, maka dalam kabinet Hatta (1950), Wahid Hasyim dipilih menjadi Menteri Agama. Jabatan itu terus menerus dipegangnya sampai 3 kali kabinet, yaitu dalam kabinet Natsir dan kabinet Sukiman, sehingga ia memegang kementerian agama selama 2 tahun. Dan banyak kemajuan yang dihasilkan selama kepemimpinannya, seperti mengadakan konferensi-konferensi dinas, pertemuan-pertemuan ulama’, membentuk jawatan-jawatan dan bagian-bagian dalam kementerian agama.
Adapun usaha dan jasanya dalam pendidikan dan pengajaran islam antara lain
1. Mengeluarkan peraturan tentang susunan dan tugas kewajiban kantor pusat kementerian agama dan lapangan pekerjaan, susunan serta tugas kewajiban. Jawatan urusan agama, jawatan pendidikan agama, jawatan penerangan agama.
2. Mengeluarkan peratuarn bersama menteri PP dan K dan menteri tentang pendidikan agama di sekolah-sekolah negeri dan partikelir.
3. Menyusun Top formasi pegawai kantor pendidikan agama di provinsi dan kabupaten di seluruh indonesia.
4. Mendirikan kantor-kantor pendidikan agama di provinsi-provinsi dan kabupaten-kabupaten di seluruh indonesia.
5. Mendirikan Sekolah Guru Hukum Agama (SGHA) negeri di Kotaraja Aceh (13 Pebruari 1951).
6. Mendirikan SGHA negeri di Bukittinggi (Sumatera Tengah).
7. Mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri di Tanjung Pinang (Sumatera Tengah) 31 Mei 1951.
8. Mengusahakan keluarnya keputusan menteri P dan K dengan persetujuan menteri agama tentang penghargaan ijazah-ijazah madrasah.
9. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Kutaraja (14 Agustus 1951)
10. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Padang (16 Agustus 1951)
11. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Banjarmasin (16 Agustus 1951)
12. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Jakarata (16 Agustus 1951)
13. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Tanjung Karang, Sumatera Selatan (16 Agustus 1951)
14. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Bandung (2 Agustus 1951)
15. Mendirikan Pendidikan Guru Agama di Pamekasan (8 Agustus 1951)
16. Mendirikan SGHA Negeri di Bandung (2 Agustus 1951)
17. Menetapkan rancana pendidikan agama islam di sekolah-sekolah rakyat dari kelas IV-VI (6 Mei 1951)
18. Menetapkan rencana pendidikan agama islam di sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama (31 Agustus 1951)
19. Menetapkan rencana pelajaran agama islam di sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama (31 Agustus 1951)
20. Mengeluarkan perasturan bersama menteri PP dan K dan menteri agama tentang peraturan PTAIN di Yogyakarta (21 Oktober 1951)
Pada masa itulah lahirnya persatuan rencana pelajaran agama di sekolah-sekolah negeri mulai dari sekolah-sekolah rakyat sampai sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama.
B. Kebijakan Pemeritah Republik Indonesia dalam Bidang Pendidikan Islam.
Pada tanggal 17-8-1945 Indonesia merdeka. Tapi musuh-musuh Indonesia tidak diam, bahkan berusaha untuk menjajah kembali. Pada bulan Oktober 1945 para ulama di Jawa memproklamasikan perang jihad fisabilillah terhadap Belanda/Sekutu. Hal ini berarti memberikan fatwa kepastian hukum terhadap perjuangan umat Islam. Pahlawan perang berarti pahlawan jihad yang terkategori sebagai syuhada perang. Isi fatwa tersebut adalah sebagai berikut :
a. Kemerdekaan Indonesia ( 17-8-1945 ) wajib dipertahankan.
b. Pemerintah RI adalah satu-satunya pemerintah yang sah yang wajib dibela dan diselamatkan.
c. Musuh-musuh RI ( Belanda/Sekutu ), pasti akan menjajah kembali bangsa Indonesia. Karena itu kita wajib mengangkat senjata menghadapi mereka.
d. Kewajiban-kewajiban tersebut di atas adalah jihad fisabilillah.
Ditinjau dari segi pendidikan rakyat, maka fatwa ulama tersebut besar sekali artinya. Fatwa tersebut memberikan faedah sebagai berikut :
1) Para ulama dan santri-santri dapat mempraktekkan ajaran jihad fisabilillah yang sudah dikaji bertahun-bertahun dalam pengajian kitab suci fiqih di pondok atau madrasah.
2) Pertanggumgjawaban mempertahankan kemerdekaan tanah air itu menjadi sempurna terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Di tengah-tengah berkobarnya revolusi fisik, pemerintah RI tetap membina pendidikan agama pada khususnya. Pembinaan pendidikan agama itu secara formal institusional dipercayakan kepada Departemen Agama dan Departemen P & K ( Dep Dik Bud ). Oleh karena itu maka dikeluarkanlah peraturan-peraturan bersama antara kedua departemen tersebut untuk mengelola pendidikan agama di sekolah-sekolah umum ( negeri dan swasta ). Adapun pembinaan pendidikan agama di sekolah agama ditangani oleh Departemen Agama sendiri.
Pendidikan Agama islam untuk sekolah umum mulai diatur secara resmi oleh pemerintah pada bulan desember 1946. Sebelum itu pendidikan agama sebagai pengganti pendidikan budi pekerti yang sudah ada sejak zaman Jepang, berjalan sendiri-sendiri di masing-masing daerah.
Pada bulan Desember 1946 dikeluarkan peraturan bersama dua Menteri yaitu Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan pengajaran yang menetapkan bahwa pendidikan agama diberikan mulai kelas IV SR (Sekolah rakyat = Sekolah Dasar) sampai kelas VI. Pada masa itu keadaan keamanan di Indonesia belum mantap sehingga SKB Dua Menteri di atas belum dapat berjalan dengan semestinya. Daerah-daerah di luar Jawa masih banyak yang memberikan pendidikan agama mulai kelas I SR. Pemerintah membentuk Majelis Pertimbangan Pengajaran Agama Islam pada tahun1947, yang dipimpin oleh ki Hajar Dewantoro dari Departemen P&K dan Prof. Dr. Abdullah Sigit dari Departemen Agama. Tugasnya ikut mengatur pelaksanaan dan Menteri pengajaran agama yang diberikan disekolah umum.
Pada tahun 1950 dimana kedaulatan indonesia telah pulih untuk seluruh indonesia, maka rencana pendidikan agama untuk seluruh wilayah indonesia makin disempurnakan dengan dibentuknya panitia bersama yang dipimpin oleh prof. Mahmud Yunus dari Departemen Agama dan Mr. Hadi dari Departemen P&K. Hasil dari panitia itu adalah SKB yang dikeluarkan pada bulan Januari 1951.Iisinya ialah :
a. Pendidikan agama diberikan mulai kelas IV Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar).
b. Di daerah-daerah yang masyarakat agamanya kuat (misalnya di sumatera, kalimantan, dan lain-lain), maka pendidikan agama diberikan mulai kelas I SR dengan catatan bahwa mutu pengetahuan umumnya tidak boleh berkurang dibandingkan dengan sekolah lain yang pendidikan agamanya diberikan mulai kelas IV.
c. Di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Tingkat Atas (umum dan kejuruan) diberikan pendidikan agam sebanyak 2 jam seminggu.
d. Pendidikan agama diberikan kepada murid-murid sedikitnya 10 orang dalam satu kelas dan mendapat izin dari orang tua/walinya.
e. Pengangkatan guru agam, biaya pendidikan agama dan materi pendidikan agama ditanggung oleh Departemen Agama.
Untuk menyempurnakan kurikulumnya maka dibentuk panitia yang dipimpin oleh KH.Imam Zarkasyi dari pondok Gontor Ponorogo. Kurikulum tersebut disahkan oleh Menteri Agama pada tahun 1952. Dalam ketatanegaraan kita dinyatakan bahwa Negara berdasarkan UUD 1945.Kedaulatan ditangan rakyat yaitu ditangan MPR. Sebelum dibentuknya MPR menurut UUD 1945, di Indonesia pernah dibentuk MPRS (sementara) pada tahun 1959.
Dalam sidang pleno MPRS, pada bulan Desember 1960 diputuskan sebagai berikut: “Melaksanakan Manipol Usdek dibidang mental/kebudayaan/agama dengan syarat spiritual dan material agar setiap warga negara dapat mengembangkan kepribadiannya dan kebangsaan Indonesia serta menolak pengaruh-pengaruh buruk kebudayaan asing” (Bab II pasal II:I). Dalam ayat 3 dari pasal tersebut dinyatakan bahwa: “Pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah umum, mulai sekolah rendah (dasar) sampai universitas”, dengan pengertian bahwa murid berhak ikut serta dalam pendidikan agama jika wali murid/murid dewasa menyatakan keberatannya.
C. Keadaan Madrasah-Madrasah pada Masa ORLA (1945-1959)
Di terangkan, bahwa madrasah-madrasah di Minangkabau sebelum Indonesia merdeka amat banyak bilangannya, dari madrasah-madrasah ibtidaiyah, tsanawiya sampai ke sekolah Guru Agama Atas. Sedangkan sekolah-sekolah guru agama saja lebih dari 10 buah banyaknya, seperti normal islam, Islamic College,Training College, Kuliah Mubalighin/ mubalighot, Mu’allimat dan lain-lain.
Tatkala kota Padang diduduki tentara sekutu (Belanda), terjadilah pertempuran tiap-tiap malam antara tentara belanda dengan pemuda-pemuda Indonesia. Oleh karena pertempuran bertambah hebat juga, maka pada pertengahan tahun 1946 Normal Islam dan Islamic College di Padang terpaksa di tutup, karena guru-guru dan pelajar-pelajarnya terpaksa mengungsi di Bukittinggi. Dengan sepakat beberapa guru-guru agama, maka didirikan di Bukittinggi. S.M.I (Sekolah Menengah Islam ) sebagai ganti normal islam dan Islamic College yang telah ditutup di Padang yaitu pada bulan September 1946. Alat-alat perkakas normal islam di Padang seperti kursi-kursi, meja bangku, alat-alat praktikum kimia dan ilmu alam, peta-peta dan lain-lain. Semuanya diangkut ke Bukittinggi untuk dipakai di S.M.I.
Mula-mula S.M.I. itu dipimpin oleh Mahmud Yunus. Tatkala Mahmud Yunus pindah ke Pematang Siantar ( Desember 1946 ), maka pimpinan S.M.I. dipegang oleh H. Bustami A. Gani. Setelah S.M.I. bediri, lalu dijadikan sekolah negeri di bawah Jawatan Agama Sumatera Barat dengan Beslit Residen Sumatera Barat. Akhirnya S.M.I. dijadikan S.G.H.A. negeri dengan beslit Menteri Agama ( Januari 1951).
Waktu ibu kota propinsi Sumatera di Pematang Siantar ( tahun 1947 ), maka Mahmud Yunus sebagai kepala bagian Islam pada Jawatan Agama propinsi Sumatera, telah merencanakan rencana baru untuk persatuan madrasah-madrasah seluruh Sumatera. Selain dari pada itu madrasah-madrasah vak, seperti Mu’allimin, muballighin dan sebagainya.Yang mula-mula melaksanakan rencana baru, ialah M. Thaha kepala Jawatan Agama keresidenan Lampung, yaitu dengan mendirikan S.M.P.I. tiga buah di daerah Lampung serta beberapa buah S.R.I. ( tahun 1948 ). Ketika ibu kota propinsi Sumatera pindah ke Bukittinggi ( akhir tahun 1947 ) karena Pematang Siantar diduduki tentara Belanda, maka pendidikn agama dilancarkan dari Bukittinggi ke seluruh Sumatera yang dikuasai oleh R.I. Untuk melancarkan itu diangkat Mahmud Yunus sebagai inspektur Agama pada Jawatan P.P.K. propinsi Sumatera, sambil merangkap kepala bagian Islam pada Jawatan Agama propinsi Sumatera ( awal tahun 1948 ). Pada tahun 1948 Mahmud Yunus mengeluarkan rencana pemgajaran Agama untuk S.M.P. seluruh Sumatera dengan persetujuan Kepala Jawatan P.P.K. propinsi Sumatera ( Hoetasoit ).
Dengan demikian dapatlah dilancarkn pelajaran Agama di S.R. dan S.M.P. menurut rencana pengajaran yang teraturdan serupa seluruh Sumatera. Pada tahun 1949 Mahmud Yunus menerbitkan buku: Pemimpin Pelajaran Agama untuk sekolah menengah, ( baru untuk kelas I ).
Pada masa P.D.R.I. ( Pemerintah Darurat Republik Indonesia ) tahun 1949 adalah Menteri Agama Mr. Tg. M. Hasan , merangkapMenteri P.P.K., sedangkan sekretaris Kementrian Agama adalah Mahmud Yunus sendiri. Maka pada masa itu Mahmud Yunus mengemukakan rencana baru madrasah-madarsah kepada Menteri Agama, supaya rencana itu diresmikan untuk madrasah-madarsah seluruh Sumatera. Maka Menteri Agama menyutujui usul itu, lalu diresmikan rencana madrasah-madrasah itu pada tahun 1946.
Setelah dilakukan penyerahan kedaulatan oleh Pemerintah Belanda kepada Pemerintah R.I. (Desember 1949 ), maka oleh Kepala Jawatan Agama Sumatera Barat Nasrudin Thaha ( tahun 1950 ) dianjurkan supaya S.M.P.I. didirikan pada tiap-tiap kabupaten diseluruh Minangkabau.
Dengan demikian berdirilah beberapa buah S.M.P.I. yang direncanakan akan dibelanjai oleh Jawatan Agama Sumatera Barat. Tetapi amat sayang, tatkala dilakukan perhubungan antara Jawatan Agama Propinsi Sumatera dengan Kementrian Agama Yogyakarta ( tahun 1950 ), maka Menteri Agama tidak dapat menyutujui S.M.P.I. itu dijadikan sekolah-sekolah negeri ( Kementrian Agama ). Meskipun Mahmud Yunus telah memperjuangkan demikian itu tatkala ia pindah ke Pusat Kementrian Agama Yogya ( 1 Mei 1950 ) tetapi tidak juga berhasil pengakuan itu.Dengan demikian guru-guru agama S.M.P.I. menjadi kecewa semuanya, padahal mereka mendirikan S.M.P.I. itu adalah atas anjuran kepala Jawatan Agama karesidenan Sumatera Barat berdasarkan penetapan Menteri Agama P.D.R.I. ( tahun 1949 ). Meskipun begitu guru-guru agma itu mengalah saja, karena harus tunduk kepada pemerintah Pusat.
IV. KESIMPULAN
1. Kebijakan pemerintah RI pada masa ORLA setelah indonesia merdeka dengan memebina pendidikan agama secara formal institusional yang dipercayakan kepada Departemen Agama dan Departemen P & K (Depdikbud)
2. Pendidikan islam yang dulunya hanya sebagai pengganti pendidikan budi pekerti telah diatur secara resmi oleh pemerintah dengan dikeluarkannya peraturan bersama dua menteri yaitu menteri Agama dan menteri pendidik dan pengajaran sebagai pendidik yang dikhususkan.
3. Pada tanggal 2 oktober 1946 – 27 Juni 1945 dibentuk panitia penyelidik pengajaran yang merekomendasikan penguatan posisi pendidik agama.Dimana pada saat itu kementerian PP&K dipegang oleh Mr.Suwandi. dan pada masa kabinet Moh.Hatta dan kementerian agama dipegang oleh Wahid Hasyim , pendidikan agama mengalami banyak kemajuan.
4. Madrasah-madrasah atau SMPI yang mana kurikulum pelajarannya banyak mengajarkan tentang keagamaan itu sulit sekali untuk dijadikan sekolah-sekolah negeri.
V. ANALISIS
Dengan paparan di atas, dapatlah diambil analisa bahwa pendidikan Islam pada masa Orde Lama terfokus kedalam dua hal: Perkembangan dan peningkatan mutu madrasah sehingga diharapkan mampu sejajar dengan sekolah umum dan memperluas jangkauan pengajaran agama, tidak terbatas pada madrasah, tetapi menjangkau sekolah umum bahkan perguruan tinggi umum. Kedua hal ini terkait erat dengan upaya pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Departemen Agama melakukan konvergensi dualisme pendidikan yang telah tumbuh sejak masa kolonial.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, dan kami sangat sadar sekali kalau adanya makalah ini banyak kesalahan dan kekuranganya. Kritik dan saran selalu kami nantikan dengan lapang dada. Terimakasih atas perhatiannya.
Langganan:
Postingan (Atom)

